Ramadhan Sewaktu Kecil

Di depan rumah ada beberapa anak-anak sedang ngabuburit, istilah bahasa Sunda untuk menunggu berbuka puasa. Mereka ngobrol dan becanda. Sayangnya ngabuburit-nya di pinggir jalan sehingga agak khawatir keamanannya. Maklum di tempat kami sudah mulai susah ruang publik. Mereka akan berbuka puasa di masjid dekat rumah kami.

Saya mencoba mengingat-ingat Ramadhan sewaktu kecil dulu. Dulu waktu Ramadhan, saya ke masjid karena ada tugas mencatat khutbah Jum’at dan kuliah subuh. Seingat saya, kuliah subuh hari Sabtu dan Minggu di masjid Salman itu ramai dengan anak-anak seperti saya. Setelah mencatat, maka kami meminta tanda tangan penceramahnya. Atau kalau di Salman dulu dibagikan stiker yang bisa kami tempel di buku catatan sebagai tanda kehadiran. Nanti ketika masuk sekolah lagi, buku catatan tersebut dikumpulkan.

Bulan puasa juga banyak liburnya. Maka waktu itu banyak waktu saya habiskan untuk ke perpustakaan dekat rumah. Ada sebuah perpustakaan di depan Pasar Simpang (jalan Cisitu Baru?) yang dikelola oleh seorang nenek-nenek. Saya berlanganan di sana. Berbagai buku saya baca mulai dari komik (Yan Mintaraga, Teguh, dll.), Karl May, dan tentu saja Kho Ping Hoo. Tamat itu semua.  Harusnya yang dibaca Al Qur’an ya? Maklum, masih jaman jahiliyah. hi hi hi.

Bagaimana Ramadhanmu sewaktu kecil?

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

17 responses to “Ramadhan Sewaktu Kecil

  • riza wahono

    ingat waktu berpuasa kecil dibogor tempat ibu, malam malam aku sering dikejutkan dengan bunyi ledakan, mengema…

    ternyata itu adalah mainan anak anak yg dikenal dengan meriam tanah,

    ndak mau kalah besoknya aku ikutan bikin , tanah depan rumah kebetulan berbentuk tebing, hingga cocok aku buat semacam parit kecil, lalu tutupi dengan papan, dan timbun dengan tanah basah…

    besoknya setelah kering, aku beli karbit padat, trus taruh wadah dan kasih air, dan masukkan dalam ruangan parit tsb, Tunggu sebentar hingga gas acetlene tercipta mengisi seluruh rongga parit lalu lobang kecilnya di buka dan disulut api… DUARRRRR…. suaranya menggelegar dan mengema, karena ledaka ada ditanah…

    ndak disangka justru dari pengalaman itu, aku dapet ngalahani bule lain dan dapet kerjaan sebagai Research Assistant, hanya karena mengusulkan simulasi ledakan gas di anjungan minyak dapat disimulasi dengan ledakan acetylene,

    para penguji terkejut, mereka bilang its dangerous, aku bilang ndak semasa kecil aku sudah bermain dengan acetylene pastiny akit abisa kontrol campuranyang sesuai….. Jadi deh akhirnya kita sebagai juaragan petasan, tiap hari kerjanya ngeledakin blastwall/firewall …

    that is my beautiful ramadhan 🙂

  • dwisudewo148

    Memang indah kenangan waktu kita kecil om budi,.. Semua ya lepas tanpa beban,. Salam kenal om budi dari pemula,. He he hee

  • reshamks

    Waktu masa kecil dulu seringkali saya diajak sama nenek ke kampung. disana sy menghabiskan waktu liburan di tengah sawah, setiap sore beri makan ayam2 peliharaan kakek.
    sekarang anakku berusia sama seperti sy 32 tahun lalu. lebih banyak di rumah, di kota. dengan tv dan gadgetnya. beda generasi beda beda kebiasaan.

  • Rahmania Farid

    Saya ingat waktu kecil saat ramadhan, saya juga diberi tugas sekolah untuk mencatat ceramah, namun maklum karena masih bandel, jafi yang mencatat ayah saya dan saya tinggal menyalin saja.. Heheheh

  • yuti

    Berbicara tentang Ramadhan di masa kecil yang etringat langsung mengunjungi rumah nenek di Bandung lengkap dengan TB. Hendra, taman bacaan dekat pasar Cihapit. Nina dan komik yang lagi nge-tren pada saat itu

  • juragan.sipil

    Pengalaman ramadhan di masa kecil yang ngga akan terlupakan adalah… minum air sembunyi-sembunyi… padahal udah jam 4 sore…😥

  • obat herbal hepatitis

    sangat setuju sekali ramadhan waktu kecil lebih berkesan

  • Fiq

    Minta ttd imam… budaya itu sudah ga ada di Jakarta sekarang mas…
    jadi rindu masa kecil huhu..

    http://www.alatuji.com

  • rachmatdetijger

    Ramadhan saya waktu kecil palingan main kembang api, setelah SMP beralih ke petasan. Kalo nyatet judul khutbah sekalian minta tanda tangan ustadz-nya sih saya lakukan dengan senang hati, soalnya rame-rame sama temen-temen sebaya dan ustadznya baik-baik semua.

  • dhani

    Masa kecil saya dihabiskan di Bali. Karena muslim di sana minoritas, jadi Ramadhan sama saja seperti hari2 biasa. Di sekolah, teman2 makan, minum, jajan, seperti biasa saja di depan kita yang sedang berpuasa. Saat sahur tidak ada yang keliling membangunkan sahur (cuma mengandalkan jam beker), dan saat maghrib tidak terdengar suara adzan untuk menandai waktu berbuka.

    Keluarga juga tidak punya tradisi mudik, jadi saat lebaran, selepas sholat Ied, hidup kembali berjalan seperti hari2 biasa. Tidak ada kenangan khusus.

  • Heri - Job Hunting Center

    Wah.. saya pas kecil – menghabiskan ramadhan di surau/langgar… dan tidur disana serta kalo malam jadi tukang patrol membangunkan ornag-orang sahur… dan jaman saya gak ada acara tipi sampai larut pagi seperti sekarang🙂

  • Putera

    Masa kecil masa yang membahagiakan.Dulu waktu malam ramadhan sering main bareng. Sekarang asik dengan urusan masing – masing. Pengin rasanya kembali ke masa kecil :’)

  • alrisblog

    Dulu waktu ramadhan tiba malamnya setelah tarawih kita main ucing-ucingan sama teman sampe jam 12 malam. Ah…kenangan indah dan berkesan.

  • KENANGAN BULAN PUASA | UD3d Rajo Bagindo

    […] dari Noni Khairani si Nyonya Sepatudi sini, Pak Budi Rahardjo dengan Padepokan Budi Rahardjo-ya di sini, apalagi pegalaman Rinaldi Munir di Catatanku di sini (yang nyaris sama dengan pengalaman saya), […]

  • pelajar

    Saya juga kangen zaman-zaman dulu….😦

  • Amin

    Menunggu meriem sebagai tanda waktu berbuka puasa pak…duerrrrrr..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: