Tag

,

Sekarang sedang ramai dibahas tentang linieritas (kelinieran) dalam pendidikan. Maksudnya begini. Seseorang yang mengambil S1 di bidang Teknik Elektro tidak disarankan (atau malah dilarang?) untuk mengambil S2 di bidang Biologi dan mengambil S3 di bidang Ekonomi. Begitu.

Mungkin contoh di atas agak ekstrim, tetapi ada banyak orang yang mengambil jalur seperti itu. Contohnya:

  • S1 Elektro, S2 Management, S3 Hukum
  • S1 Informatika, S2 Matematika, S3 Matematika

Mungkin linieritas ini diterapkan karena ada orang-orang yang meng-abuse kemudahan mendapatkan S2 di bidang tertentu yang bukan bidangnya tetapi relatif lebih “mudah” untuk mendapatkannya hanya untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Sebagai contoh ada teknisi lab yang mengambil S1 ekonomi (atau sastra) agar dia dapat naik pangkat. [Catatan: “mudah” di sini jangan dianggap mengecilkan bidang ilmu tersebut.]

Hal lain yang menyebabkan penerapan linieritas ini adalah untuk memastikan mahasiswa memiliki dasar yang kuat dibidang itu agar dapat menyelesaikan studinya. Misalnya, seseorang yang S1 di bidang Ekonomi akan sulit menyelesaikan S2 di bidang Teknik Elektro. Begitu.

Masalahnya sekarang bidang ilmu itu sulit untuk dikotak-kotakkan. Bahkan inovasi sering terjadi karena adanya multi disiplin. Cross pollination. Jika kita membuat kotak-kotak atau sekat-sekat yang terlalu ketat, maka sulit bagi kita untuk menghasilkan inovasi.

Memang umumnya sebagaian besar akan cederung linier, tetapi membatasi – dengan menerapkan linieritas ini – membuat orang-orang hebat yang seharusnya dapat berkarya secara multidisiplin menjadi tidak mungkin terjadi.

Nah. Pusing? Saya pribadi cenderung untuk tidak menerapkan linieritas.