Tidak Mengejar Prestasi, Tapi Tetap Serius

Dalam berbagai hal, saya mengambil pendekatan untuk tidak mengejar prestasi. Wah, maksudnya bagaimana? Nanti saya malah disalahkan karena mengajari untuk tidak mengejar prestasi.

Saya ambil contoh saja ya. Ketika masih sekolah dahulu, saya tidak berusaha untuk menjadi juara kelas. Tujuan saya belajar bukan untuk menjadi juara kelas, tetapi untuk menguasai materi ilmu di kelas tersebut. Caranya adalah dengan melihat materi kelas tersebut dari kacamata lain sehingga menjadi menarik untuk dipelajari. To make it interesting to solve. Something like that. Maka saya tetap serius dalam belajar. Hasil juara itu hanya efek sampingan.

Ada orang yang berusaha agar mendapatkan prestasi, dalam artian mencari gelar juara. Mereka terlihat begitu ngotot, untuk mencari julukan atau gelarnya. Maka banyak (teman-temannya) yang merasa risi dan tidak respek kepada mereka. Mungkin ini juga karena teman-temannya terlihat menjadi seperti tidak mau berusaha sehingga dinilai jelek. he he he.

Itu contoh untuk di kelas ketika masih bersekolah. Dalam kegiatan sehari-hari – seperti dalam berolah raga, bermain musik, membaca, menulis, dan seterusnya – saya melakukan hal yang sama. Nulis blog ini, misalnya. Banyak orang yang membuat blog karena ingin terkenal (atau karena akan digunakan untuk ndompleng). Sementara saya ngeblog karena … ya, saya suka ngeblog. hi hi hi. Maka saya tetap menerapkan keseriusan saya. Hasilnya, blog ini menjadi banyak pengunjung dan terkenal. Lagi-lagi, itu efek sampingan, bukan tujuan.

Nah …

Iklan

18 pemikiran pada “Tidak Mengejar Prestasi, Tapi Tetap Serius

  1. keren sekali bapak ini.. salam kenal pak saya faiq siswa sma dr bogor, selalu mengikuti blog bapak. sebelum baca berita di media lain, ke blog bapak dulu hehehehe sukses terus pak!

  2. Ini mungkin yang dimaksud sambil menyelam terus minum air hehehe… masing-masing orang pasti punya kelebihan dan kekurangan yang jadi poin penting adalah bagaimana cara mengoptimalkan kelebihan yang kita punya

  3. caranya menarik sekali pak, ternyata niat saya salah selama ini untuk membuat blog. makanya agak jadi beban. mulai sekarang saya akan mencoba cara pandang seperti bapak.

  4. kaya di film ‘3 idiots.’ Tokoh utamanya sekolah karena suka belajar dan ijazahnya dikasih untuk orang lain. Hasilnya: all is well 🙂

  5. Prisnsip tersebut bisa fleksibel tergantung situasi dan kondisi. Ketika kita bersekolah dulu dimana kita masih kanak-kanak segala sesuatu yang kita lakukan bagaikan air mengalir, bahkan belajarpun kadang-kadang malas. Kalau seandainya pada waktu itu kita mendapat ranking “juara kelas”, itu hanya kebetulan karena kita memiliki kecerdasan yang melebihi teman-teman sekelas.

    Pada saat kita dewasa katakanlah mulai memasuki perguruan tinggi, atau memasuki dunia kerja, prinsip di atas sadar atau tidak sudah tidak berlaku, keinginan untuk berprestasi yakin itu “nomor 1” walaupun dalam kenyataannya kita tidak mendapat prestasi, itu masalahnya adalah “kita kalah bersaing”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s