Mentoring Entrepreneurship: Product Development

Salah satu bahan diskusi dalam mentoring entrepreneurship tadi pagi adalah tentang pengembangan produk (product development). Start up punya beberapa ide yang ingin atau harus diiimplementasikan. Permasalahannya adalah seringkali pendiri (founder) tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk atau layanan yang dimaksudkan. Apa alternatifnya?

  1. Mempekerjakan seseorang dengan memberi gaji. Masalahnya, start up seringkali tidak memiliki uang yang cukup untuk itu. Saya sendiri pernah melakukan hal ini dan kandas di tengah jalan. Produk belum selesai, modal sudah habis. Akhirnya produk dihentikan dan startup mandheg.
  2. Mencari partner partner yang dapat mengembangkan. Masalahnya, tidak mudah menemukan orang yang mau sama-sama mengembangkan produk itu. Kalaupun ketemu, imbalannya apa? Apakah berbagi kepemilikan? Porsi sahamnya seberapa besar? Pendekatan ini pun kadang (sering?) gagal. Di tengah jalan, sang partner kehilangan semangat (atau juga kehabisan modal juga) sehingga tidak menyelesaikan produk. Susah memaksa komitmen partner.
  3. Belajar untuk mengembangkan sendiri. Ini kadang dilakukan dengan modal nekad. Potensi kegagalan cukup tinggi karena untuk belajar itu butuh waktu. Jika produk atau servis yang akan dikembangkan membutuhkan teknologi atau ketrampilan yang tinggi, ya wassalam. Kalau dia hanya membutuhkan ketekunan dan kesabaran, boleh jadi pendekatan ini dapat dilakukan meskipun dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mewujudkannya,

Yang pasti, kalau tidak melakukan sesuatu ya sudah pasti produk atau layanan tidak bakalan ada. he he he. Yang ini namanya mimpi atau mengkhayal … šŸ˜€

Iklan

4 pemikiran pada “Mentoring Entrepreneurship: Product Development

  1. Jujur saya masih belum begitu paham dengan istilah “Start UP”. Terlintas dipikiran saya untuk membangun mobile aplikasi untuk direktori sejarah produksi Kaset, CD, Vinyl dan sebangsanya. Biar generasi penerus (anak muda netizen) bisa menelusuri informasi yang tercetak di Cover Album. Dan biasanya banyak informasi menarik seputar orang-orang yg terlibat dalam penggaraapan musik tersebut. atau mungkin “IDE” ini sudah tersedia di Apple Store? saya belum menelusuri lebih lanjut. Terkadang saya miris melihat komentar “lagu-lagu itu ya tinggal sedot gatis aja di Torent”. Saya lagi berpikir, bagaimana caranya generasi mendatang, rela mengeluarkan uang untuk mengoleksi atau menghargai karya para musisi???? Makasi Pak Budi Rahardjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s