Ketersediaan SDM IT Indonesia

Salah satu komponen utama dalam bisnis teknologi informasi (IT) – dan bisnis apapun sebetulnya – adalah sumber daya manusia (SDM). Apa jumlah SDM tersebut mencukupi? Bagaimana dengan kualitasnya (dibandingkan dengan SDM dari negara lain)? Berapa gaji mereka? Bagaimana trend kebutuhan SDM IT (bidang apa saja; administrator sistem, jaringan, rekayasa perangkat lunak / pemrograman, database)? Ini adalah contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan. Jawaban dari pertanyaan ini dibutuhkan jika kita ingin merencanakan sebuah pekerjaan (proyek). Selain itu, jawaban ini dibutuhkan juga untuk sekolah-sekolah yang terkait dengan program studi teknologi informasi; apakah perlu membuka program studi baru dan menutup yang lama, dan sebagainya.

Beberapa tahun yang lalu – saya lupa tepatnya, mungkin sekitar tahun 2000 atau 2003 – kami pernah membuat sebuah survey untuk Bandung High-Tech Valley (BHTV). Survey yang didukung oleh Deperindag (waktu itu Industri dan Perdagangan masih menjadi satu) kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku, Blue Book. Seharusnya survey yang sejenis dilakukan kembali. Mari?

Untuk sementara ini mari kita coba jawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan hitung-hitungan kasar. (Hitungan ini akan saya perbaiki sejalan dengan waktu dan ketersediaan data yang lebih baik. Hitungan yang lebih akurat nanti kita lakukan dengan menggunakan survey riil.)

Kita mulai dari sisi pendidikan formal dahulu. Perlu diingat bahwa banyak SDM IT yang tersedia tidak melalui pendidikan formal IT. Untuk mereka akan dibahas secara terpisah. Untuk pendidikan formalpun, kita batasi dahulu yang terkait dengan Teknik Elektro / Komputer, Informatika, dan Ilmu Komputer. Sebetulnya jurusan Teknik Fisika, Fisika, dan Matematika juga masih termasuk yang dapat menghasilkan SDM IT. (Pada kenyataannya ada juga lulusan dari Arsitek, Astronomi, Geologi yang akhirnya menjadi pekerja di dunia IT.) Mereka belum kita masukkan ke dalam hitungan. Anggap saja sebagai bonus🙂

Pertanyaan pertama adalah ada berapa sekolah yang menghasilkan SDM IT di Indonesia? Berapa jumlah lulusan yang dihasilkan untuk setiap jenjangnya (S3, S2, S1, D4, D3, SMK) dalam satu tahun?

Bandung

Kita ambil contoh Bandung dahulu dan mulai dari  ITB. Prodi STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB menerima (sekitar) 300 mahasiswa STEI setiap tahunnya untuk program S1. Katakanlah sebagian besar lulus tepat waktunya sehingga ada 300 lulusan setiap tahunnya. (Kalaupun tidak tepat, toh ada lulusan tahun sebelum-sebelumnya juga sehingga dapat kita katakan sekitar angka itu kelulusannya. Nanti akan saya perbaiki lagi jika ada data yang lebih akurat.) Dari lulusan ini sebagian besar melanjutkan ke S2 dan S3. Ada yang ke luar negeri dan ada yang di dalam negeri. Dari segi bidang ilmu, berapa persen yang menggeluti IT-related? Saya ambil dugaan mengikuti hukum pareto saja ya.

  • IT: 80% dari 300 adalah 240 orang
  • non-IT: 20%

Pertanyaan selanjutnya adalah ada berapa persen yang tetap berkarya di bidang IT (dalam hal ini termasuk elektronika, telekomunikasi, tenaga listrik) dan berapa persen yang di non-IT (misal menjadi manager dari bank, migas, perdagangan umum, dan sebagainya – dalam kapasitas yang non-IT karena dalam perusahaan tersebutpun kerjaan merekapun masih bisa IT).

  • IT: ??%
  • non-IT: ??%

Ditambah dengan jurusan lain yang juga mengajarkan kuliah yang IT-related (seperti Teknik Fisika dan bahkan Fisika), katakanlah didapatkan 50 lulusan. Angka ini ditambahkan dengan 240 orang tadi sehingga menghasilkan 290 orang. Katakanlah mudahnya ada 300 orang S1 yang dapat bekerja di bidang IT.

Untuk yang S2, ada beberapa program S2 yang terkait dengan IT secara langsung seperti misalnya program S2 Chief Information Officer (CIO), Layanan Teknologi Informasi (LTI), Telekomunikasi, dan seterusnya. Total mahasiswa yang terkait ada lebih dari 100 orang.

Untuk mahasiswa S3 yang terkait dengan teknologi informasi, jumlahnya masih sangat minim. Mungkin jumlahnya masih belasan orang saja.

Hitungan kasar total ada sekitar 400 orang lulusan IT-related/tahun dari ITB. Sedikit ya?

Di Bandung, selain ITB ada perguruan tinggi lain yang juga menghasilkan lulusan IT, antara lain: Telkom University (dahulu IT Telkom atau STT Telkom), Unikom, Unpas, dan beberapa yang lainnya. (Jumlahnya ada berapa? Harus kita survey. Katakanlah ada 10.) Dari segi ukuran, mereka lebih besar dari ITB. Katakanlah setidaknya mereka sama dengan ITB.

Jumlah lulusan: 10 x 400 = 4000 lulusan S1/tahun. (Ini banyak atau tidak ya? Kalau dibandingkan dengan India, tentunya angka ini sangat kecil.)

Lulusan D3. Ada beberapa politeknik dan sekolahan yang menghasilkan D3 di bidang IT di Bandung, seperti antara lain Telkom University (dahulu Poltek Telkom), Polban, Politeknik Pos, …

Kota-kota lain

[Di sini kita coba cari data untuk Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makasar]

[masih belum selesai ditulis]

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

5 responses to “Ketersediaan SDM IT Indonesia

  • patusainside

    Dituggu catatan berikutnya prof!

  • adhityadit

    bagaimana bisa org non-IT bekerja di bidang IT ? Sementara hal2 yang sifatnya teknis dan kompleks untuk bidang IT sangat banyak dan perubahan serta perkembangan di bidang teknologi IT baik hardware maupun software juga sangat dinamis dan cepat sekali kebanyakan orang yang punya passion di bidang IT padahal bukan orang IT pastinya harus mempelajari hal2 teknis dengan otodidak misalnya untuk jaringan bidang ini saja sebenarnya sudah punya tingkat kompleksitas yang tinggi buat org2 yg melek IT karena dituntut untuk menguasai persoalan troubleshoot jaringan internet dsb bagaimana ceritanya dengan org yang non IT ? tapi kalau punya keinginan belajar yang kuat dan juga satu hal lagi yang penting yaitu kesempatan untuk terjun dan praktek langsung menurut saya ini juga penting, tidak ada yg tidak mungkin.

  • anto

    lulusan it yang bersertifikat akan mudah mendapatkan kerja

  • iscab.saptocondro

    Bidang IT sudah terspesialisasi. Kadang perusahaan butuh orang yang bisa sistem X dan bahasa pemrograman Y. Akan tetapi pelamar punya pengalaman sistem A dan bahasa pemrograman B.
    Jadinya pilihannya cuma dua: pelamar ditolak atau perusahaan menerima pelamar tapi keluar biaya waktu dan uang untuk training.

    B di atas adalah variabel, bukan bahasa pemrograman B, sebelum C ditemukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: