Tag

, ,

Di Indonesia, seorang dosen itu harus menjadi superman (superwoman). Seorang dosen harus melaksanakan “Tri Dharma Perguruan Tinggi”; (1) Pendidikan, (2) Penelitian, dan (3) Pengabdian pada masyarakat.

Sebetulnya tidak ada yang salah pada Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut. Masalahnya adalah untuk mengharapkan ketiganya dapat dilakukan oleh seorang dosen dengan tingkat yang sangat baik itu sangat sukar. Ada dosen yang rajin mengajar (aspek pendidikan), tetapi jarang melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Waktunya sudah habis untuk mengajar. Hal yang sama juga terjadi pada dosen yang rajin melakukan penelitian sehingga sering kuliahnya terbengkalai atau dia tidak pandai dalam mengajar. (Banyak dosen yang pintar tetapi mengajarnya buruk.) Juga ada dosen yang banyak memiliki proyek di luar kampus (aspek pengabdian masyarakat) sehingga kuliah dan penelitiannya terbengkalai. Singkat katanya, sulit untuk mengharapkan ketiga aspek tersebut melekat dalam satu dosen. Yang lebih memungkinkan adalah harapan tersebut dilekatkan kepada institusinya. Bukan pada individual dosennya.

Tuntutan seperti di atas hanya dapat dipenuhi oleh seorang super dosen.

Saya sendiri bukan seorang super dosen. Namun saya mencoba memenuhi ketiga aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut. Dalam mengajar, saya tidak buruk-buruk amat. Eh, cenderung baik malahan. hi hi hi. Memuji diri sendiri. Kelas saya ramai dihadiri mahasiswa. Kadang ada mahasiswa dari tempat lain yang minta ijin untuk duduk di kuliah saya. Daftar kehadiran saya juga relatif rajin, mendekati 100%. Ada kalanya saya tidak dapat hadir mengajar karena terpaksa harus hadir di pertemuan yang sangat penting. (Tidak mengada-ada sangat pentingnya.)

Karena sibuk mengajar inilah yang membuat saya sulit untuk memenuhi permintaan mahasiswa di tempat lain untuk memberikan kuliah umum atau sejenisnya. Bukan berarti saya tidak mau lho. Hanya saja harus diatur skedulnya agar saya tidak (terlalu banyak) membolos kuliah.

Di bagian penelitian, apa yang saya kerjakan juga cukup baik. Hasil penelitian umumnya dituangkan dalam bentuk karya ilmiah. Ranking saya dalam penulisan karya ilmiah juga lumayan. Kalau kita lihat ranking Webometric saat ini yang menggunakan Google Scholar, misalnya, hari ini saya menempati urutan 272 untuk seluruh Indonesia. Not bad for a busy person like me.

BR webometric

Ada banyak dosen lain yang seharusnya memiliki karya ilmiah lebih banyak tetapi entah kenapa tidak produktif. Padahal mantra dosen di luar negeri adalah “publish or perish”. Menghasilkan karya ilmiah atau hilang.

Di bidang pengabdian masyarakat, saya banyak berkontribusi dalam hal-hal yang terkait dengan IT dengan bentuk komunitas (ID-CERT, misalnya) dan komersial (berbagai perusahaan / start-up yang saya miliki). Ada banyak yang saya kerjakan di sini. Bahkan dahulu saya cenderung lebih banyak aktif di sini. Sekarang saya mengurangi aktivitas di sini meskipun saya masih banyak membina start-up.

Apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini? Bahwa orang biasa seperti saya dapat ikut berkontribusi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Berusaha untuk menjadi super dosen. Namun ini bukan hal yang mudah.

Saya ulangi sekali lagi. Seharusnya Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut diterapkan pada tingkatan institusi, bukan individual.