Menuliskan Konsep

Mengapa ya kita – orang Indonesia – kurang suka menulis? Ada yang mengatakan ini budaya. Bukankah budaya dapat kita ubah? Jika kita mau berubah tentunya. Atau, memang sesungguhnya kita tidak ingin berubah?

Saya sering menugaskan mahasiswa untuk menulis. Hasilnya kurang maksimal. Mahasiswa ternyata tidak siap untuk menulis. Saya perhatikan juga tulisan-tulisan mereka yang seharusnya formal tetapi keluarnya menjadi “alay“. hi hi hi.

Saat ini mahasiswa sedang ramai berdemo. Berteriak-teriak menyuarakan ini dan itu. Saya belum melihat mereka menghasilkan semacam “buku putih”, atau apalah, yang berisi konsep pemikiran mereka tentang apa-apa yang terjadi saat ini dan kemungknan solusinya. Saya tidak tahu apakah masalahnya hanya pada penulisannya saja atau – malah lebih menyeramkan lagi – mereka tidak memiliki konsep. Ah, bahkan membuat memikirkan soal konsep pun mungkin bangsa kita sudah tidak sanggup. Kering.

Mengkhayal? Mungkin itu pun sudah merupakan sebuah hal yang “mahal”. Padahal mengkhayal merupakan hal yang paling murah dan mudah.

Mungkin harapan saya agar mereka (kita?) mulai menulis konsep dengan baik terlalu berlebihan. Berteriak-teriak memang lebih mudah.

Iklan

21 pemikiran pada “Menuliskan Konsep

  1. meskipun berteriak hanya membutuhkan tenaga sedang menulis membutuhkan tenaga dan pikiran, tapi menulis lebih bermanfaat daripada berteriak..

  2. Teriak-teriak itu olahraga, sekaligus hiburan melihat fenomena hari ini A besok B, plinplan. Mahasiswa mikir kalau mengerjakan ujian, tugas. Mahasiswa itu harus banyak main dan juga banyak belajar. Banyak koq yang mikir tapi di luar circle.

  3. saya bertanya-tanya, apakah di sekolah-sekolah sekarang bahasa indonesia sudah tidak terlalu penting? karena bahkan di bangku kuliah saya pernah melihat sendiri seorang mahasiswa yang bahkan menulis kesan dan kesan super acakadul…
    saya juga berpikir, jangan2 ini juga ada hubungannya dengan sistem ujian yang tidak lagi mengenal ujian essay…. semua pilihan ganda (opsional)… hanya perlu memilih… tidak perlu berpikir untuk merangkai kata untuk menyampaikan jawaban…. tampaknya semua elemen negara ini hanya ingin yang instan, bahkan dalam pendidikan… #mungkin termasuk saya…

  4. beruntung sekolah sekarang sudah mulai membiasakan anak (SD) menulis dan mengungkapkan gagasan… anakku juga begitu, dan kami biasanya disuruh mendengarkan atau membaca apa yang diungkapkannya sembari memberi komentar di bagian akhir……

    so.. bisa jadi mahasiswa demikian (yang tidak bisa menulis) salah mendapat pendidikan dari dulunya 😦

  5. Dulu sebelum demo, baik di Indonesia maupun Jerman, aku wajib diskusi dan menulis konsep hingga jadi selebaran serta poster.
    Poin-poin yang didemokan harus bisa jadi artikel yang mudah dibaca dan diunduh di web, blog, pdf, dll.
    Jadi kalau berhadapan dengan wartawan, demonstran kaga bodoh-bodoh amat.

  6. Mungkin karena anak jaman skrg udah banyak mainannya..seperti gadget misalnya. Kmana2 psti yg dimainin jg hape. Beda sama jaman dulu dmn well mainannya msh tradisional jd waktu yg ada dipake deh buat menulis hehe saya sendiri jd suka menulis skrg di blog saya

  7. Perlu ada perbaikan kurikulum pendidikan sepertinya Pak. Pendidikan yang merangsang siswa untuk berfikir dan menuangkan gagasan. Dan selain dari itu, mungkin sang pendidik pun perlu diubah budayanya yakni budaya menulis itu dimulai dari pendidiknya agar lebih mudah menularkannya kepada siswa.

  8. Setuju Pak! Harus membiasakan diri menuliskan konsep, setidaknya menjawab 4 hal dalam FPAP : Fenomena – Penyebab – Akibat – Pemecahan masalah nya. Salam 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s