Tag

,

Mengemudikan kendaraan – mobil, motor, bahkan sepeda – membutuhkan kemampuan. Tidak bisa seseorang yang bisa naik motor langsung turun ke jalan raya. Ada seni untuk mengemudikan kendaraan. The art of driving / riding.

Salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seorang pengendara adalah kemampuan memprediksi perilaku pengendara dan pengguna jalan lainnya. Motor di depan ini mau terus atau belok. Atau bahkan berhenti. Mobil angkot (angkutan kota) di depan ini kayaknya akan berhenti menunggu calon penumpang. Ngetem.

Di sisi lain, kita sebagai pengendara juga memberi sinyal-sinyal kepada pengendara dan pengguna jalan lainnya. Ada tanda yang sangat eksplisit, misalnya dengan menyalakan tanda belok (kiri atau kanan). Ada juga dang gesture badan kalau mengendarai motor Рmisal menengok atau melihat kaca spion. Pokoknya ada indikasi-indikasi yang membuat orang lain tahu apa yang akan kita lakukan. Seperti menari mungkin? Atau kalau dalam musik jazz, memberikan tanda kepada pemain lain untuk masuk / berimproviasi.

Sekarang ini ada banyak pengemudi yang lempeng aja. Mungkin dia fokus kepada diri sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Kaca spion diarahkan kepada dirinya. Untuk ngaca? Tidak mau memperhatikan orang lain dan tidak memberikan tanda-tanda kepada orang lain. Tiba-tiba berhenti saja. ATau belok. Ini berbahaya. Membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Kemampuan – skill & art – dari mengemudi kendaraan ini belum dimiliki oleh anak kecil. Itulah sebabnya anak-anak belum boleh mengendarai kendaraan di jalan raya.