Pembatasan Waktu Kuliah di Perguruan Tinggi

Apakah perlu ada batas waktu di perguruan tinggi? Misalnya, setelah melewati waktu tertentu (x) maka yang bersangkutan di-DO (drop out). Alasannya kenapa ya?

Jaman dahuluuuu sekali tidak ada aturan ini. Jaman saya kuliah dulu ada yang kulihanya 10 tahun. Maka ada istilah “mahasiswa abadi”. hi hi hi. Waktu itu ini bisa terjadi karena tempat di perguruan tinggi masih banyak tersedia. Jadi tidak perlu ada pembatasan waktu kuliah. Toh mahasiswanya juga tidak menjadi membebani sumber daya (resources) perguruan tinggi. Dia hanya menjadi angka statistik saja (yang mana ini mungkin tidak disukai perguruan tinggi atau pemerintah).

Majukan waktu. Fast forward. Semakin banyak siswa yang ingin masuk ke perguruan tinggi sementara tempat tetap terbatas. Mulailah menjadi masalah. Maka mulailah dibatasi waktu studi di perguruan tinggi – meskipun waktunya masih agak longgar juga. Kalau lewat batas waktu itu, maka mahasiswa diancam DO juga.

Pada saat yang sama terjadi “inflasi” gelar. Kalau dahulu bergelar S1 sudah menjadi “jaminan” untuk mendapatkan pekerjaan, sekarang pekerjaan yang sama membutuhkan gelar S2. Apaan sih ini? Akibatnya gelar diperjualbelikan.

Majukan waktu lagi. Batas waktu diperketat lagi. Sekarang katanya kalau lewat dari 5 tahun di perguruan tinggi bakal kena DO. Nah, ini malah sumber masalah. Mahasiswa dan perguruan tinggi tidak mau terjadi DO. Ini mimpi buruk bagi keduanya. Bagi sang mahasiswa (dan orang tuanya) sudah jelas ini mimpi buruk. Bagi perguruan tinggi? Ini juga mimpi buruk. Mana ada perguruan tinggi yang mau menunjukkan statistik DO-nya. Bayangkan jika ada perguruan tinggi yang mengatakan bahwa 50% mahasiswanya drop out. Ada yang mau daftar? (Padahal ini seharusnya tidak masalah.)

Untuk menghindari DO ini maka muncullah upaya-upaya nakal. Salah satunya adalah menurunkan kualitas. Pokoknya kalau bisa seluruh mahasiswa lulus! Soal-soal ujian dipermudah. Everybody is happy. Ancur bukan? Dosen yang tidak meluluskan mahasiswa malah akan mendapat masalah, meskipun sang mahasiswa tidak layak untuk lulus. Biarkan saja nanti dunia bisnis / industri yang menerima akibatnya. Nah lho.

Atau, upaya nakal lain adalah berbuat curang. Bagi mahasiswa yang bermasalah ini adalah pilihan yang terpaksa mereka lakukan. Kalau tidak berbuat curang dan gagal, di-DO. Kalau berbuat curang dan ketahuan di-DO. Itu kalau ketahuan. Kalau tidak? Ya selamat. Kalau dilihat dari pertimbangan ini, maka melakukan kecurangan lebih prospektif daripada berbuat jujur. Padahal di perguruan tinggi satu hal yang justru TIDAK BOLEH dilakukan adalah curang. Gagal boleh. Curang tidak boleh. Nah perarturan ini menjadikan gagal tidak boleh. Maka curang menjadi alternatif yang lebih menjanjikan.

Bagi saya ada masalah yang lebih besar. Jika batas waktu itu semakin diperketat sehingga tidak ada ruang bagi mahasiswa untuk melakukan hal lain selain kuliah dan ujian saja. Padahal mahasiswa harus belajar untuk bersosialisasi, berinteraksi dengan masyarakat, berorganisasi, mencoba membuat usaha (startup), dan seterusnya. Alasan “saya masih mahasiswa” akan lebih mudah diterima ketika dia gagal dalam membuat usaha / berinteraksi, dan seterusnya. Kalau sudah lulus, tidak ada alasan untuk gagal. Masyarakat menuntut keberhasilan. Kapan dia belajar untuk gagal? Untuk jagoan dalam mengendarai sepeda pasti pernah jatuh. Lebih baik jatuh ketika sedang belajar naik sepeda daripada tidak pernah jatuh dan justru terjatuh ketika ngebut naik sepeda.

Saya sering menasihati mahasiswa saya untuk tidak cepat-cepat lulus. Buat apa cepat lulus dan setelah itu pusing cari kerjaan? Perusahaan pun pusing menerima lulusan yang tidak siap kerja. Bukankah lebih baik mencari pengalaman kerja ketika menjadi mahasiswa sehingga ketika lulus dia sudah siap.

Mahasiswa tetap berada di kampus pun sebetulnya tidak menambah beban kampus. Dia hanya menjadi tambahan entry di dalam database saja, bukan? Kalau dia mau mengambil kuliah, maka dia memang harus membayar sejumlah mata kuliah (SKS) yang dia ambil. Biaya (cost) terpenuhi sehingga tidak terlalu menjadi beban.

Singkatnya, saya melihat lebih banyak masalah atau mudarat daripada manfaat dalam pembatasan waktu kuliah yang terlalu ketat.

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

29 responses to “Pembatasan Waktu Kuliah di Perguruan Tinggi

  • aajaka

    yang dikhawatirkan mahasiswa jadi fokus studi, pas lulus gak punya karya, gak punya skill…

  • Greatnesiaa

    “Dosen yang tidak meluluskan mahasiswa malah akan mendapat masalah, meskipun sang mahasiswa tidak layak untuk lulus ” -> curhatan kita sama sepertinya pak🙂

  • JNYnita

    Di kampusku akhirnya juga dilakukan pembatasan waktu kuliah, bagi yg lewat target harus bersedia mengundurkan diri (jd bukan DO)..

  • Nandito Silaen

    kalau ditanya sedikit bingung untuk menjawab. namun seharusnya kampus udah harus tegas di awal, supaya mhs yang males2an berpikir untuk mhs abadi.

  • usman blangjruen

    Kami di Politeknik sudah lama seperti ini. 3 tahun kebut harus selesai.

  • ko song

    Habis baca artikel ini, lgsg ngerasa bener banget…
    Karena takut do, semuanya ambil jalan pintas… memang byk mudharatnya kalau hbs baca artikelnya…
    Dan akan banyak nilai nilai kasihan bermunculan…

    Kalau saya nggak setuju batasnya cuma setahun dari batas normal, kalaupun ada batas 5 tahun dari batas normal kayanya angka yg bgus :v
    Ya paling nggak 2 kali dari batas normal lah, d3 min 3 tahun maks 6thn, s1 min 4 tahun maks 8 tahun :v

    Jadi saya lebih setuju gak ad batasnya…

    Saya hanya mengomentari dan tidak merasa benar kok🙂

  • ded

    Positifnya mahasiswa termotivasi menyelesaikan tugas akhirnya (skripsi) yang sering menjadi batu sandungan🙂

  • Ricalinu

    tergantung orangnya juga

  • Aldi Rahman Untoro

    ternyata lebih banyak mudharatnya pembatasan waktu kuliah ini, dibatasi karena jumlah mahasiswa yang banyak, dan pihak universitas tidak mampu menampung jumlah tersebut. Pembatasan waktu kuliah di perguruan tinggi, pasti ada kelebihan dan kekurangannya

  • indah

    Saya kurang setuju… pembatasan waktu kuliah membatasi kreatifitas mahasiswa/wi…serta akan mendorong mahasiswa/wi berbuat curang agar segera lulus..

  • Rizaldo Arigi

    jangan lulus cepet2? oke oke … tapi ingatkah uang kuliah itu dari siapa? dari diri sendiri ? gak masalah. dari orang tua? tega amat membuang uang orang tua agar bisa lebih lama di kampus. belajar juga ga pas kuliah saja kan?

  • ian.achmadjanuar

    Reblogged this on theianachmadjanuar and commented:
    Perlu direnungkan bersama….

  • ウサギ

    klo di kampus saya yg dilakukan ada saat penilaian ad distribusi normal saat nilai angka jd huruf..seharusnya klo kt saya (walopun berat) jgn distribusi normal..soal sama susah tapi nilai tetap dipatok untuk nilai A B dll..jd kualitas bisa terjaga..klo untuk pmbatasan waktu setuju dan tidak sih..ad bail dan buruk sesuai yg dikemukakan..tapi saya cnderung dgn adanya pmbatasan waktu kuliah walau harus dikaji ulang rentang waktunya..
    Hanya berpendapat..
    Terimakasih atas tulisannya,semoga bangsa ini smakin baik dan maju. Amiin

  • eibidifaiq

    Reblogged this on eibidifaiq and commented:
    mantap pak! izin reblog ya pak..

  • Falah Aghaditama Nazar

    Ya, saya sebagai mahasiswa akhir merasa semakin banyak mahasiswa yang dicetak apatis, karena budaya perkuliahan yang semakin mirip dengan sekolah. Padahal tujuan perkuliahan adalah jembatan dari masa pendidikan menuju industri, yang notabene industri membutuhkan banyak partisipasi dari setiap individu. Individu yang enggan berpartisipasi, itulah individu yang bukan unggulan. Sedangkan harapan masyarakat tentunya, teman-teman yang mengecap perkuliahan merupakan individu yang unggul.

  • yuli agustiani

    saya sendiri kurang suka dengan pembatasan waktu yang di berikan, terkesan memaksa

  • sandrosirait

    sepakat dengan pemikiran pak Budi.

    Pembatasan waktu kuliah jadi 5 tahun akan menjadi insentif bagi mahasiswa utk melakukan kecurangan ketimbang memperoleh DO dan mungkin juga kampus untuk mencegah nama buruk kampus dengan menurunkan standar kelulusan.

    Terima kasih pak atas tulisannya

  • Souma

    Saya suka artikel yang agan buat semoga bermanfaat
    Prediksi AS Roma vs Udinese – Akhir Pekan ( http://goo.gl/rrji4q )

  • widnyana

    Reblogged this on Widnyana and commented:
    Well, dilema muncul karena ga semua mahasiswa yang lulus tepat waktu punya kompetensi yang bagus, dan ga semua mahasiswa yang telat/DO lebih buruk ketimbang mahasiswa yang lulus tepat waktu.
    Jika dibatasi, mahasiswa tidak punya ruang gerak untuk menempa diri, jika tidak dibatasi, mahasiswa yang terlalu molor juga perlu dipertanyakan kembali kemampuan dan komitmennya. so lebih baik dibatasi dalam tahap wajar. toh dibatasi atau tidak, mahasiswa yang menggunakan joki untuk menyelesaikan tugas akhir/skripsi/thesis juga akan tetap banyak.🙂

  • Kelas Dosen Jualan

    Setiap kebijakan terjadi pro dan kontra itu biasa, tergantung kita menyikapinya. mampir di kampus saya di http://www.dosenjualan.com kita belajar bareng KONSULTAN INTERNET MARKETING

  • I Putu Yoga Permanai

    iya pak, aturan makin lama makin absurd, mudahan aturan2 yang dibuat semakin bagus yak🙂

  • dedendecor

    kuliah adalah cara atau alat untuk mendapatkan salah satu ilmu,,jangan cukup puas dengan gelar,,karna sesungguhnya banyak kuliah yang mengejar kuantitas bukan kualitas mahasiswanya,,,

  • Dwi Wahyudi

    Saya kira selama mahasiswa tsb mampu membiayai kuliahnya dan memang ada kemauan untuk menyelesaikan kuliahnya maka dirinya akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa lulus secepatnya.🙂

  • indra

    buat apa kuliah cepat” , tapi skill di lapangan blom ad

  • Yulian Prasetya

    Hemm… Mahasiswa sekarang pragmatis juga sih. Lulus cepet biar cepet dapet kerja, bukan lagi mengabdi masyarakat

  • Dewi Oktavia

    Hingga saat ini juga saya masih bertanya-tanya apa kerugian yang ditimbulkan oleh mahasiswa abadi, kenapa sampai harus di DO ya??

    Kalau pikiran orang awam, makin lama seorang mahasiswa menempuh pendidikan, maka semakin menguntungkan untuk univ nya (CMIIW)..

  • Kaos Polos Bandung

    DO atau tidak yang penting kaya karya,,,semangat ya untuk teman2 yang mungkin belum bisa melanjutkan atau yang sudah bisa kuliah,,,,ilmu itu tidak harus di bangku kuliah,,,toh dluar sana masih banyak ilmu2 yang masih dapat kita ambil,,bahkan 90% ilmu itu dapat kita serap dilapangan,,,,thanks ya bagi2 pengalaman,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: