Tag

, ,

Setiap kota menghadapi masalah pertumbuhan penduduk tetapi infrastruktur – misal, jalan, transportasi publik – tidak bertambah. Atau, infrastruktur kalaupun bertambah, penambahannya kalah cepat dengan penambahan jumlah penduduk. Taman disingkirkan dan digantikan dengan jalan (yang mungkin juga bertumpuk). Mobil bertambah, jalan tetap. Kota dikuasai oleh kendaraan. Dan masih banyak “kemajuan” lain yang menyesatkan. Akibatnya kota menjadi kacau balau.

Ada beberapa insisatif untuk meningkatkan “kebagusan” sebuah kota, dengan definisi “kebagusan” yang berbeda-beda. Salah satu contoh yang paling banyak diambil adalah membuat smartcity. Membuat kota menjadi cerdas dengan memanfaatkan teknologi. Ada pendekatan lain yang jarang diambil orang, tetapi ternyata mulai mendapat perhatian, yaitu Happy City.

Pendekatan Happy City mendapatkan kesuksesan di Bogota. Pada awalnya mereka ingin mengejar ketinggalan kota mereka dengan membandingkan dan mengikuti kota-kota besar lain di dunia. Masalahnya, Bogota memiliki masalah yang berbeda. Pendapatan yang rendah, masalah kejahatan yang tinggi, dan seterusnya. Jika membandingkan diri dengan kota lain, maka akan terasa sangat ketinggalan. Pecundang. Akhirnya mereka menggunakan pendekatan lain, yaitu mereka mengembangkan hal-hal yang membuat mereka senang, seperti misalnya membuat taman, public transport, bahkan mencoba membatasi jumlah kendaraan (semacam car free day) pada hari tertentu, dan seterusnya. Hasilnya, mereka happy.

Di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil, nampaknya Bandung mengambil pendekatan yang serupa. Taman-taman yang lama mulai diperbaiki dan ada yang baru dibuat. Alun-alun dipercantik. Sekarang jadi ajang orang berpotret (selfie). Daerah sekitar Museum Asia Afrika dan jalan Braga juga semakin baik. Sekarang di Bandung adanya banyak taman dan perbaikan kosmetik kota ini membuat warga menjadi lebih happy. Saya ingin menuliskan lebih banyak tentang kebagusan kota Bandung, tetapi belum sempat. Lagi ada kejar tayang pekerjaan.๐Ÿ™‚ Intinya adalah pendekatan Happy City Bandung nampaknya mulai menjadi kenyataan. Saya bahagia.

IMG_7416 alun2 bdg 1000

[Alun-alun Bandung yang baru]

Kalau kita telaah lebih mendalam lagi, sebetulnya yang kita inginkan kita kebahagiaan (happy) atau kecerdasan (smart). Banyak tempat (atau lebih tepatnya warganya) yang terlihat smart tetapi orangnya tidak happy. Sebagai contoh, indeks prestasi siswa Indonesia (matematika, misalnya) rendah di bandingkan Singapura, tetapi kebahagiaan siswa Indonesia jauh lebih tinggi dari yang lain. Bukan maksud saya kita tidak berusaha untuk menjadi lebih cerdas, itu selalu perlu, tetapi kita jangan melupakan kebahagiaan.

Hidup Happy City Bandung!

Link lain: