Iming-iming Uang: Kasus Go-Jek

Berita yang hangat akhir-akhir ini adalah ada banyak orang yang ingin menjadi pengemudi (driver) Go-Jek (dan Grab Bike). Bahkan ada pemberitaan yang mengatakan ada sarjana yang melamar menjadi driver Go-Jek. Kemudian orang menyalahkan Go-Jek dan situasi saat ini. Lah?

Pertama, kenapa kok Go-Jek yang disalahkan? Bukankah mereka justru yang benar? Memanfaatkan teknologi yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup (bagi pengemudi ojek dan penumpangnya). Mereka yang harus diacungi jempol. Bukan disalahkan. Yang perlu disalahkan adalah kita-kita yang menyalahkan mereka. he he he. Ruwet bukan?

Kedua, banyak orang yang tergiur oleh cerita tentang penghasilan driver Go-Jek yang besar. Menurut saya ini ilusi. Bahkan ada banyak yang penghasilannya naik karena menjadi pengemudi Go-Jek itu sudah pasti. Namun ini bergantung kepada orangnya sendiri. Pendapatan banyak itu bukan karena pakai jaket dan helm Go-Jek. Itu seperti kita ingin pandai berbahasa Inggris dengan cara pakai jas dan dasi. he he he. Kalau tidak mau berusaha, ya bahasa Inggrisnya tetap belepotan.

Ketiga. Yang namanya bekerja itu tidak ada yang mudah. Dikiranya menjadi pengemudi ojek itu gampang. Padahal itu kerja keras juga. Ada panas dan hujan yang harus dilalui. Ada risiko keselamatan juga. Tidak mudah. Memang pekerjaan orang lain terlihat lebih mudah dari pekerjaan kita.

Apapun yang kita kerjakan, lakukan dengan sepenuh hati. Soal rejeki, itu sudah ada yang mengatur.

Iklan

15 pemikiran pada “Iming-iming Uang: Kasus Go-Jek

  1. terus terang ojek (berbasis smartphone) memang fenomena.. apalagi melihat dengan banyaknya orang yang punya “pendidikan” pun ikut mendaftar menjadi kang_ojek, fenomena orang yang punya “pendidikan” jadi ojek saya melihat bahwa orang indonesia itu secara sempit “melihat fenomena” sekarang itu cenderung gampang dan ga mau capek mikir..
    mungkin itu juga yang bikin kebanyakan orang indonesia itu ga kreatif dan maju… lah!

  2. kebetulan temen kantor saya, ada yang ngajakin buat berhenti kerja terus malah ngelamar ke go-jek… hadeh hadeh

    seputartangerang.com

  3. sayang di solo belum ada, kalau ada lumayan buat nambah jajan kuliah. lagipula, kenapa juga disalahkan, aneh aja. itu tanda indonesia belum menerima kehadiran teknologi mungkin. sirik karena gak mampu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s