Apresiasi dan Usaha

Seringkali saya diminta untuk mengajarkan ini dan itu. Atau memberikan presentasi tentang sebuah topik. Dengan senang hati saya melakukannya, tetapi pada waktu yang saya bisa. Maklum, saya kan super sibuk.

Sayangnya kenyataan tidak seindah yang diperkirakan. Kadang ketika saya memberi presentasi ini dan itu, yang hadir tidak banyak. Setelah itu yang tadinya minta diajarkan malah tidak datang. ha ha ha. Ini sih namanya tidak mengapresiasi. Apalagi terus minta materi presentasinya. wk wk wk. Bagi saya sendiri tidak menjadi masalah karena saya memang senang berbagi. Mau ada yang menerima atau tidak itu tidak menjadi pertimbangan bagi saya.

Saya melihat banyak orang yang kurang usaha. Maunya banyak, tapi usaha kurang. Malas. Mau melakukan sesuatu asal mudah. Asal sesuai dengan enaknya dia. Misalnya, waktunya yang sesuai dengan jam kosongnya dia. Padahal untuk mendapatkan sesuatu dibutuhkan usaha. Kadang kalau terpaksa harus bolos kuliahlah. Lucunya, untuk nonton pertandingan sepak bola yang jam 2 di pagi haripun dikejar sementara yang penting malah ditinggal tidur. wk wk wk.

Budaya “disuapi” juga merupakan tantangan yang berat. Ini berlawanan dengan budaya “usaha”. Itulah sebabnya banyak orang yang berada malah kalah semangat dengan yang pas-pasan. Maklum, kalau pas-pasan ya *terpaksa* harus berusaha. Kepepet itu motivator yang efektif. ha ha ha

Banyak yang merasa sudah berusaha. Padahal apa yang dia lakukan masih jauh dari usaha yang dilakukan oleh orang lain. Mana bisa dia menjadi lebih sukses. Kadang saya bertanya kepada mahasiswa, berapa jam dia tidur dalam satu hari. Kalau lebih lama dari saya, berarti dia memang kurang berusaha. Memang ini bukan ukuran utama, tetapi setidaknya menunjukkan berapa keras dia berusaha. Sebagai contoh, kadang untuk menuju tempat klien saya harus bangun jam 3 pagi (atau kurang) dan kemudian sudah harus menembus jalan pukul 3:30. Shalat Subuh pun terpaksa dilakukan di perjalanan. Namanya juga berusaha.

Konsistensi dalam melakukan usaha juga kadang kurang dijaga. Mau jadi hebat tetapi melakukannya kadang-kadang. Kalau sempat saja. Padahal konsistensi itu sangat penting. Bayangkan apabila jantung berhenti berdetak. Sebentaaaar saja. Dia harus konsisten berdetak apapun yang terjadi.

Nah … kalau tidak mau memberi apresiasi, tidak mau berusaha, ya jadi zombie saja. hi hi hi. Eh, jangan-jangan untuk menjadi zombie pun membutuhkan usaha yang luar biasa. Hadoh.

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

15 responses to “Apresiasi dan Usaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: