Jam Terbang

Ada istilah “jam terbang”, yang maknanya adalah seberapa sering kita sudah melakukan sesuatu. Semakin sering, tentunya semakin ahli kita dalam melakukan sesuatu tersebut. Di dalam bahasa Inggris ada pepatah; “practice makes perfect”. Saya percaya akan hal ini.

Malcom Gladwel, dalam bukunya “Outliers”, menjelaskan bahwa orang-orang yang hebat itu sesungguhnya tidak lahir hebat. Mereka mengalami masa latihan yang cukup lama, 10 ribu jam atau 10 tahun. Jagoan tidak hadir tiba-tiba seperti halnya diceritakan dalam dongeng. Tiba-tiba masuk ke hutan, ketemu kotak yang sakti, tiba-tiba jadi jagoan silat. hi hi hi.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga menerapkan hal ini. Saya main futsal, main musik, dan bahkan menulis di blog ini juga menerapkan hal ini. Saya mulai nge-blog sejak tahun 2002. Jadi sekarang sudah 13 tahun saya ngeblog. Wuih. Hanya saja, jumlah tulisan saya belum mencapai 10 ribu. Baru lebih dari 4000-an. Maka dari itu saya masih harus rajin menulis di blog ini.

Banyak orang yang heran kenapa saya lumayan bagus main futsalnya – dalam artian banyak mencetak gol – ya karena latihan. Seminggu dua kali. Itupun sebenarnya masih belum cukup, tapi karena usia ya saya anggap cukup. Sementara banyak anak-anak yang jauh lebih muda dari saya tidak mau latihan rutin.

Dalam bermusikpun saya baru pada tahap banyak manggung. Tadi siang juga manggung lagi dengan anak saya. Lagi-lagi menambah jam terbang. Terlalu banyak orang yang tidak mau berusaha untuk belajar. Saya kutipkan dari buku Gladwel:

“The Beatles ended up traveling to Hamburg five times between 1960 and the end of 1962. On the first trip, they played 106 nights, five or more hours a night. On their second trip, they played 92 times. On their third trip, they played 48 times, for a total of 172 hours on stage. The last two Hamburg gigs, in November and December of 1962, involved another 90 hours of performing. All told, they performed for 270 nights in just over a year and a half. By the time they had their first burst of success in 1964, in fact, they had performed live an estimated twelve hundred times”

Lihatlah bagaimana the Beatles berjuang dari bawah. Bayangkan 270 kali manggung dalam satu setengah tahun. Sepertinya manggung setidaknya dua hari sekali. Sementara itu saya mungkin baru manggung 30 s/d 40 kali setahun. Ini saja sudah lebih dari artis / band profesional. ha ha ha. Oh ya, kondisi panggung yang dialami oleh the Beatles juga sangat jauh dari sempurna. Panggung yang gak beres. Sound yang gak beres. Penonton yang gak beres. Pokoknya tidak seperti yang dibayangkan atau diinginkan oleh banyak orang. Tidak banyak alasan. Maka dapat dimengerti mengapa the Beatles menjadi sebuah band yang paling sukses.

DSC_0023 BR LR 0001

Mari menambah jam terbang terus …

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

8 responses to “Jam Terbang

  • Sati

    Paragraf, “Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga menerapkan hal ini. Saya main futsal, main musik, dan bahkan menulis di blog ini juga menerapkan hal ini. Saya mulai nge-blog sejak tahun 2002. Jadi sekarang sudah 13 tahun saya ngeblog. Wuih. Hanya saja, jumlah tulisan saya belum mencapai 10 ribu. Baru lebih dari 4000-an. Maka dari itu saya masih harus rajin menulis di blog ini”

    Ini cukup sebagai penyemangat bagi saya.. Soalnya pengalaman pak Budi sendiri yang diceritain, bukan pengalaman orang lain.. Hehehe..

  • Okky Fajar Tri Maryana

    saya sangat sepakat dengan apa yang dikatakan Gladwell pak. Bukunya sangat inspiratif. Terima kasih telah share untuk mengingatnya kembali Pak.🙂

    Okky

  • mr jahe

    Semangat!!! *menyemangati diri sendiri*

  • Berri Primaputra

    Setuju..sama mas budi,
    aku juga berpikir dalam bekerja orang akan lebih percaya dengan orang yang memiliki jam terbang tinggi ketimbang latarbelakang yang dimiliki . Pengalaman itu pasti menjadi sebuah rujukan yang tak memiliki ukuran. yang pastinya pengalaman datang saat ilmunya sudah ada di tangan kita.😀

  • bymbim

    setuju pak, tapi beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca artikel tentang “deliberate practice”, penulisnya berpendapat bahwa hukum 10.000 jam-nya Gladwell kurang lengkap atau sering disalah-pahami sebagian pembacanya. 10.000 jam latihan cukup membuat seseorang menjadi ahli, tapi bagaimana ‘cara’ latihannya? Menurut si penulis (saya lupa namanya) latihan 10.000 jam itu seharusnya merupakan latihan terkontrol, dengan kata lain memiliki target latihan juga evaluasi.
    Bagaimana menurut Bapak?

  • Heri Purnomo

    Jam terbang akan memberi pembelajaran dengan sendirinya, tapi disamping jam terbang sasaran perlu juga ditetapkan pak.🙂 hehe.. dan itu yang seringkali saya abaikan… melupakan sasaran.

    Makasih pak Budi, artikelnya.

  • ded

    Setuju Pak, makanya ada pepatah “Pengalaman adalah guru yg terbaik”🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: