Nasib Pengajar

Akhir-akhir ini ada banyak “serangan” kepada pengajar (guru dan dosen). Maksudnya serangan di sini adalah kritikan dan juga tuduhan-tuduhan. Kira-kira isinya bernada “pengajar tidak mengajar dengan baik dan hanya memikirkan uang”. Maka timbullah pro dan kontra.

Di satu sisi, saya yang merasa sebagai pengajar yang baik (hi hi hi, betulkah?) merasa trenyuh. Begitu ya padangan orang? Semestinya mereka tahu bahwa pengajar itu susah banget kerjanya. Kami-kami ini memiliki komitmen yang tinggi. Gaji tidak seberapa tetapi upaya tinggi. Kebanyakan dari kami menjadi pengajar bukan karena uangnya. (Mungkin jadi pengemudi Go-Jek pendapatannya lebih banyak? he he he.) Saya mengajar karena senang mengajar.

Ada banyak orang yang menjadi pembicara di sana sini dan kemudian beranggapan bahwa mengajar itu mudah. [Harus diletakkan meme dari seorang internet marketer yang merendahkan guru itu. ha ha ha.] Wah, kalau hanya jadi presenter yang notabene hanya mengajari sekali di tempat yang sama sih mudah. Begitu harus mengajar di kelas atau memberikan kuliah 15 kali pertemuan dalam kurun 1 semester, modhar … he he he. Tidak mudah! Silahkan dicoba.

Sttt… ini rahasia kita saja ya. Ini rahasia pengajar. hi hi hi. Baru sekedar untuk urusan *hadir* rutin saja sudah menjadi sebuah masalah. (Kok kayak siswa atau mahasiswa? Iya. Memang sama!) Apalagi hadir dan *siap* dengan bahan pengajaran beserta semangat mengajarnya. 15 minggu berturut-turut. Silahkan dicoba. Tidak mudah.

Di sisi lain, memang ada pengajar yang tidak memiliki komitmen. Ada yang hadir hanya sekedar untuk memenuhi daftar hadir. Peduli amat dengan apa yang diajarkan. Yang lebih parah adalah yang ada namanya tetapi kehadirannya minim (karena asyik mengerjakan proyek, menjadi nara sumber di sana sini, atau ikut seminar / workshop di luar kota). Saya tidak menutup mata, ada yang seperti ini. Nah, yang perlu kita lihat memang porsinya. Banyakan yang ngaco seperti ini atau banyakan yang baik-baik?

13 Comments

  1. mengutip kalimat terakhir pak budi

    …yang perlu kita lihat memang porsinya. Banyakan yang ngaco seperti ini atau banyakan yang baik-baik?

    saat ini dengan sertifikasi gaji guru/dosen bisa dikatakan berlipat dgn harapan mereka lebih fokus mendidik dan lebih bisa membuat anak didik menjadi lebih baik. pada kenyataan ternyata tak seindah konsepnya. sertifikasi dapet tapi ngobyek jalan terus, tunjangan dapet tapi bukan utk meningkatkan kompetensi malah utk beli mobil .
    saya berasal dari keluarga guru dan rata2 mereka sebenarnya cukup prihatin dengan kondisi sekarang.

    Menjawab pertanyaannya pak budi, secara umum dugaaan saya sih antara yang baik2 dan yang ngaco dan satu kategori lagi, yang tak kompeten (artinya tidak ngaco tapi juga bukan pendidik yang baik) kira2 seimbang alias yang baik dan kompeten ya kira2 sepertiga.

    penelitian Worldbank ini mungkin bisa menjadi gambaran

    www-wds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB/2012/10/18/000386194_20121018032330/Rendered/PDF/732640BRI0BAHA00disclosed0100170120.pdf

  2. “Di sisi lain, memang ada pengajar yang tidak memiliki komitmen. Ada yang hadir hanya sekedar untuk memenuhi daftar hadir. Peduli amat dengan apa yang diajarkan. Yang lebih parah adalah yang ada namanya tetapi kehadirannya minim”

    Lalu bagaimana cara mengatasi hal tersebut pak?

  3. “oh ya, saya tidak memiliki sertifikasi dosen. pangkat / golongan saya pun rendah. namun, boleh saya mengadu karya dan komitmen.”

    Komen ini yang saya suka…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s