Tag

, ,

Melihat komentar-komentar di timeline facebook, saya terpaksa harus mengelus dada. Ampun deh orang-orang. Ada banyak yang asal komentar saja. Ambil cerita (link) dari sebuah sumber, kemudian komenter. Entah sumbernya kredibel atau tidak, itu tidak penting. Bahkan, artikelnya pun tidak dibaca. Judul saja yang dibaca, kemudian komentar. Ada juga yang memang membaca dengan seksama kemudian komentar seakan topik yang dibahas itu masalah yang mudah.

Contoh orang-orangnya? Wah banyak banget. Mau disebutkan satu persatu nanti malah marah. he he he. Serunya, mereka juga tidak merasa. ha ha ha. Kacaw deh.

Saya ambil contoh lain. Soal musibah asap yang kita alami ini. (Entah ini dapat disebut musibah atau bukan karena pelakunya adalah manusia yang secara sadar membakar hutan atau ladang. Bukan karena tidak sengaja.) Banyak orang yang langsung memberikan komentar seolah-olah gampang memecahkan masalah ini. Kalau gampang, mungkin sudah dari dulu ini tidak masalah. Itulah sebabnya saya tidak terlalu banyak berkomentar tentang masalah asap ini, meskipun kesal. Ya, itu dia, saya belum bisa memberikan solusi yang lebih baik dari yang sudah dilakukan oleh orang-orang saat ini (dan waktu lalu). Semoga masalah asap dapat terselesaikan dengan cepat.

[By the way, katanya membakar ladang / hutan itu boleh secara undang-undang. Minta tautannya ya. Nanti saya pasang di sini.]

Saya paham memang membuat komentar itu mudah. Ya, mereka tidak boleh disalahkan juga. Kan orang juga hitung-hitungan. Mana yang lebih mudah, itu yang diambil. Mengapa pilih yang susah?

Eh, kalau komentar di sini boleh disamakan dengan komentar di facebook gak ya? ha ha ha