Meski Mataku Tidak Biru

Saya orang Indonesia asli. Tulen. Lahir di Indonesia dari orang tua yang Indonesia juga. Mataku tidak biru. (Warnanya apa ya? Cokelat, mungkin.) Tetapi mengapa saya merasa lebih mudah berkomunikasi dalam bahasa Inggris?

Tulisan ini sebetulnya bermula dari kegalauan saya. Pertama, saya sebetulnya tidak terlalu suka kepada orang yang mencampuradukkan bahasa dalam bicara. Terutama bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kadang saya merasa orang yang melakukan itu ingin sok-sokan. Ternyata, saya pun kadang melakukan demikian. Hayah.

Kedua, ada kritikan mengapa saya lebih menyukai bacaan berbahasa Inggris daripada yang berbahasa Indonesia. Bahkan, saya tidak bisa membaca buku dalam bahasa Indonesia. Bagi saya lebih mudah membaca buku dalam bahasa Inggris. Mengapa saya banyak mendengarkan musik Barat? Mengapa saya lebih banyak melihat acara TV Barat? (Yang ini bahkan ekstrimnya, saya jarang melihat acara TV lokal. Sinetron lokal? Apa lagi. Tidak.) Kritikan terhadap poin ini adalah, saya ke-Barat-Barat-an. Mengapa kamu demikian? Matamu tidak biru.

Saya mencoba mencari jawaban terhadap hal ini. Mungkin perjalanan hidup saya yang membuat saya demikian.

Sejak kecil, saya sudah dikursuskan bahasa Inggris. Ini jaman dahulu lho. Tujuannya ya supaya bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bukan untuk keren-kerenan dapat sertifikat atau apa. Ini serius belajar. Maka, kelas 6 SD sebetulnya saya sudah menguasai bahasa Inggris secara umum. Bisa baca dan tulis. Tapi banyak orang Indonesia yang juga melakukan hal ini. Tidak aneh.

Di rumah kami ada radio kuno yang dapat mendengarkan radio luar negeri melakui frekuensi SW (short wave). Radio Australia, misalnya, bisa kami dengarkan. Maka saya mendengarkan American Top 40 (dengan Casey Kasem) dari situ. Nah ini sedikit banyak membuka pemahaman kultur asing. Bahasa Inggris saya juga naik pesat karena banyak mendengarkan orang berbicara dalam bahasa Inggris.

Selain itu di rumah saya selalu ada saudara yang kuliah di perguruan tinggi, notabene ITB dan UNPAD. Mereka memperkenalkan saya kepada musik berjenis progressive rock (Genesis, Yes, Pink Floyd, Gentle Giant, dan seterusnya) dan classic rock. Bertahun-tahun mendengarkan musik jenis ini, maka ketika saya SMP pun saya sudah mulai menyukai jenis musik ini. Ketika mendengarkan musik inipun saya mencoba memahami bahasanya.

Setelah lulus dari ITB, saya berkesempatan untuk melanjutkan S2 dan S3 di Kanada. Hampir 11 tahun saya di sana. Ketika di Kanada, awalnya saya tinggal di asrama mahasiswa (dorm) di kampus. Ini juga membuka wawasan saya tentang budaya Barat. Di asrama itu saya tidak memiliki TV. Jadi saya ikut nonton TV di basement, yang notabene kadang memutar film sitcom (tahun 80-an seperti Family Ties, Night Court, Cheers, Three’s Company, Golden Girls, dan masih banyak lainnya) dan talk show (Johnny Carson, David Letterman, dan seterusnya). Maka semakin paham saya akan budaya Barat (notabene North American). Saya punya teori bahwa untuk memahami sebuah bahasa atau budaya, cara paling cepat adalah melalui lawakan. Jika Anda bisa tertawa dalam bahasa itu, maka sesungguhnya Anda sudah mengerti bahasa itu.

Mungkin ini semua yang menyebabkan saya menjadi Westernized. Itulah yang menyebabkan saya lebih mudah mengerti pesan-pesan yang disampaikan dalam tulisan berbahasa Inggris meskipun mata kami tidak biru. Itu pulalah yang membuat saya lebih menyukai musik Barat dan film Barat.

Maafkan kami.

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

9 responses to “Meski Mataku Tidak Biru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: