Tag

,

Ada orang yang bertanya bagaimana saya sampai kepada posisi sekarang (dalam artian “sukses” – meski secara terbatas). Jawabannya adalah kerja keras. Meskipun ada yang berkata seharusnya kerja cerdas (smart) bukan keras (hard work), saya masih tetap berpendapat bahwa kerja keraslah yang lebih menentukan.

Dalam banyak hal saya terus belajar dan pantang menyerah, baik di bidang pendidikan, bisnis, musik, olah raga, dan lain-lain. Banyak orang yang menyerah karena berbagai alasan, antara lain:

  • capek, lelah (padahal saya juga sama);
  • orang lain kerjanya lebih santai dari saya (saya tidak pernah membanding-bandingkan diri dengan orang lain, tidak ada tempat iri hati. biar saja mereka santai dan terlihat lebih sukses. mereka bukan saya);
  • bosan;
  • dan segudang alasan lainnya.

Mau tahu kesuksesan band the Beatles? Mereka kerja keras. Ada suatu masa yang mana mereka manggung lebih dari 160 kali dalam satu tahun. Artinya, setiap dua hari sekali mereka manggung. Terus menerus dalam satu tahun. Saya yakin sebagian besar orang sudah menyerah.

Dalam belajar, saya hadir mendengarkan orang bercerita (presentasi) tentang bidangnya. Pendengar yang hadir kadang banyak, kadang hanya 3 orang (dimana saya salah satunya – ha ha ha). Banyak orang yang (katanya) mau pinter, hanya sekedar hadir saja untuk mendengarkan sudah tidak mau. Apalagi kalau disuruh baca buku! Yakin gak bakalan dilakukan.

Sementara itu juga saya baca buku. Banyak buku yang sudah saya baca. Dan tentunya masih lebih banyak lagi yang belum sempat saya baca. Selain membaca, saya juga harus mencoba. Bereksperimen. Ini juga membutuhkan waktu.

Dalam olah raga, saya berlatih futsal secara rutin. Dua kali seminggu. Entah sudah berapa tahun terakhir. (Lima? Tujuh tahun?) Sementara ada orang yang kadang hadir, kadang tidak. Malah lebih banyak tidaknya. Memang untuk hadir ke lapangan membutuhkan usaha dan lebih banyak keteguhan hati. Hujan. Jalan macet. Pekerjaan. Segudang alasan untuk membuat kita tidak hadir.

Dalam musik juga demikian. Saya berlatih dengan teman-teman secara rutin. Meskipun saya masih jauh dari dikatakan “bisa”, saya masih terus berlatih. Kadang berlatih sampai malam. Kadang harus menembus hujan sambil membawa dua gitar dan dua ransel dari tempat parkir mobil (yang kadang jauh) ke studio. Saya yakin kebanyakan orang memilih untuk tidur. (Atau menghabiskan waktu di media sosial sambil entah ngapain.)

Dalam bisnis dan bekerja juga sama saja. Kadang orang hanya melihat hasilnya tanpa mau tahu kerja kerasnya. Banyak buku yang saya baca, diskusi, dan juga langsung menjalankannya. Lengkap dengan kesalahan-kesalahan yang terjadi. Semua harus dilalui. Memang ada sih orang-orang yang tiba-tiba ingin jadi bos perusahaan. Yang karbitan seperti ini biasanya lebih sulit untuk sukses.

Dalam hal menulis. Ah, lihat saja blog ini. Tidak perlu saya berpanjang lebar. Lihat saja sejak kapan saya menulis dan sudah berapa banyak tulisan yang saya buat. Kalau dibukukan, sudah lebih dari 4000 halaman. Jadi ensiklopedia kali ya? hi hi hi. Untuk menulis sebanyak ini seringkali saya harus melakukannya di tengah malam. Mungkin mood yang menyebabkan demikian. Banyak orang yang ingin blognya banyak dikunjungi tapi tidak mau kerja keras menulis. Maunya instan juga. Lah?

Kadang untuk menyemangati saya melihat film-film atau cerita-cerita orang yang kerjanya lebih keras dari saya. Saya bukan apa-apa dibandingkan dengan mereka.

Kembali ke topik utama, kerja keras. Jangan menyerah. Jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih santai. Jangan iri hati. Nikmati kerja keras ini. Sukses akan hadir.