Anti-Mainstream

Sejak kecil saya tahu bahwa saya berbeda. Selera musik saya berbeda dengan teman-teman. Ketika mereka menyukai musik pop, saya sudah mulai menyukai progressive rock. Saya membaca, ketika kawan saya entah ngapain. Saya ngoprek elektronik, ketika kawan-kawan membeli mainan. Dan seterusnya.

Karena saya berbeda, saya mencoba menerima perbedaan dan orang-orang yang berbeda. Jadinya banyak orang yang dianggap “aneh”, outcast, oleh kebanyakan orang tetapi saya bisa berteman dengan mereka. Banyak kejadian yang mengajari saya untuk menghargai orang, apapun latar belakang dan status sosial mereka. Ini mengharuskan saya sopan dan memberikan senyum ke jelata yang tidak dipandang oleh society. Justru malah saya menjauh dari orang-orang yang mapan karena khawatir mereka akan menganggap saya menghargai mereka karena kemapanannya.

Ini membuat saya cenderung anti-mainstream. Ketika dahulu orang belum memotret diri – selfie, saya sudah melakukannya. Justru karena sekarang banyak yang selfie, saya malah tidak suka lagi. Pokoknya yang menjadi mainstream, biasanya saya jadi kurang suka. he he he.

Berbeda itu ada untung dan ruginya. Untungnya adalah mudah teridentifikasi karena beda sendiri. Stand out in the crowd. Ruginya atau buruknya adalah mudah teridentifikasi juga. Padahal seringkali saya tidak ingin terlihat. Lebih enak tersembunyi karena bisa suka-suka sendiri. Ya, harus menerima perbedaa ini. Jiyah …

Tulisan ini juga merupakan salah satu contoh ke-anti-mainstream-an saya. Ketika orang masih berbicara tentang tahun baru – maklum, sekarang kan tanggal 1 Januari – saya malah menuliskan hal ini.

Long live anti-mainstream!

16 Comments

  1. Nah itu dia. Dari dulu saya suka memotret makanan. Eh, sekarang semua orang melakukannya. Jadi gimana yaaa. Soalnya saya masih suka memotret makanan. Jadinya saya lakukan diam2. he he he. Seolah-olah gak motret, padahal motret.

  2. Setuju banget!! Jangan terlalu mainstream, nanti jadinya terlalu biasa, terkadan kita harus think out of the box, seperti yang telah dilakukan oleh salah satu developer di Palembang ini, dia mengembangkan kawasan hijau pertama di Palembang dan respon masyarakat sangat baik 🙂

  3. yes, sama mas, dikeluarga saja ibarat telor 1 kg nih aku yang menetas sendiri saking bedanya apalagi dalam sosial masyarakat, hehe. Alhamdulillahnya malah berkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s