Salah Dimengerti

Tanpa kehadiran fisik, dunia online sering menimbulkan perkelahian. Bukan kelahi fisik, tetapi tetap saja perkelahian. Pasalnya kita tidak mendapatkan umpan balik (feedback) atas apa yang kita sampaikan. Seringkali, apa yang kita tuliskan salah dimengerti.

Boleh jadi kita sudah berhati-hati dalam mencari kata-kata untuk menyampaikan opini atau isi hati kita. Tetap saja salah pengertian juga terjadi. Mungkin saja lawan bicara kita atau pembaca memang mencari-mencari kesalahan atau tidak mau mengerti. Sangat mungkin. Namun tetap saja kita harus lebih berhati-hati dalam menulis.

Inilah sebabnya saya sering geleng-geleng kepala, tidak mengerti, akan orang-orang yang demikian mudahnya menuliskan apa saja di dalam status atau time line di akun media sosialnya. Lagi pula, tidak semua harus dituliskan. Mari menahan diri untuk menuliskan yang tidak penting.

Mungkin juga itu salah kita-kita. Kenapa pula naik darah dengan melihat tulisan seseorang yang disampaikan tanpa berpikir panjang.

eh, jangan-jangan tulisan ini juga salah dimengerti. hadoh.

Iklan

11 pemikiran pada “Salah Dimengerti

  1. Hiola!
    Biasanya bnyak orang2 yng nulis di akun sosmed mereka ttg hal yang sebenarnya tidak perlu dipublikasi, dalam waktu 1 jam bisa 10 kali update.. hehe mungkin ini yang namanya kenarsisan..
    Salam,
    Bagus F.

  2. khusus buat saya pribadi,
    menulis memang harusnya dipahami sebagai sebuah seni. tanpa unsur itu, maka tulisan akan menjadi kosong.. termasuk dalam kasus menulis status di media sosial.. apakah yang kemudian kita tulis itu benar-benar bermanfaat untuk pembaca atau tidak. pikirkan juga efek yang akan ditimbulkan dari apa yang kita tulis akan seperti apa..untuk diri sendiri, dan untuk orang lain tentunya……

  3. tidak cuman tulisan saja pak budi tapi juga sering kali banyak konten2 berupa gambar dan video yang tidak patut serta mengandung unsur kekerasan, pornografi, pornoaksi dll pokoknya yang tidak pantas dan seharusnya tidak menjadi konsumsi publik karena para pembaca termasuk saya juga terpaksa ikut melihat atau mungkin harus ada sensor khusus yang bisa diaplikasikan untuk tulisan dan status2 di media sosial tsb ?

  4. terlalu banyak di dunia maya tulisan-tulisan yang bersifat provokatif, maka di zaman sekarang harus memakai nalar yang lebih untuk membaca sebuah artikel di internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s