Tag

, ,

Di lingkungan saya ada beberapa (banyak) kegiatan pembelajaran. Bentuknya bisa berupa kelas formal, mentoring, kursus (formal), training, workshop, sharing session, dan seterusnya. Topik-topik yang dibahasnya pun bervariasi, mulai dari teknis (coding, electronics, animasi) sampai ke bisnis. Namun akhir-akhir ini saya melihat adanya pola yang terjadi berulang-ulang.

Ketika saya mengadakan sharing session soal animasi (misalnya, padahal saya gak ngarti apa-apa soal animasi) maka kemudian ada yang komentar “pengen ikutan”, “kami diberitahu dong”, “adakan lagi”, dan seterusnya. Ini adalah komentar-komentar dari orang yang tidak  bisa hadir di acara tersebut. Okelah. Maka pada kesempatan berikutnya, saya adakan lagi. Hasilnya juga sama, orang-orang tersebut (kebanyakan malahan) juga tidak datang dengan segudang alasan (sibuk, hujan, tidak sempat, lupa, dan seterusnya). Pada intinya adalah mereka tidak serius sungguh-sungguh ingin belajar. Atau, kalau mau belajar pun harus sesuai dengan skedul / kondisi / mood / … mereka. Tidak ada perjuangan untuk belajar.

Jika Anda sungguh-sungguh ingin belajar, buatlah waktu. Ya harus mau repot. Kejarlah sumber ilmunya itu. Kalau perlu harus merangkak bergurupun lakukanlah. Katanya, “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Jika ada guru yang baik, datangilah. Jangan minta dia yang mendatangi Anda. Yang butuh belajar itukan Anda. Carilah waktu guru tersebut. Tunjukkanlah kesungguhan Anda. (Luke Skywalker juga harus berguru jauh ke Yoda. Tokoh-tokoh [super]hero lainnya dan juga cerita silat juga demikan. Silihakan tuliskan contoh-contoh lainnya yang Anda ketahui di bagian komentar.)

Sementara itu, biasanya saya hanya dapat meringis membaca tulisan orang yang berkata “adakan lagi dong” atau “beritahu kami kalau ada lagi”.