Baret dan Benjut Itu Biasa

Saya penggemar olah raga. Maniak, bahkan, untuk jenis olah raga tertentu. Penggemar di sini bukan hanya sekedar menjadi penonton, melainkan ikut memainkan olah raga tersebut. Sejak dari kecil. Ada olah raga yang jenisnya jalan (naik gunung, jalan Bandung Lautan Api), Tae Kwon Do, Sepak Bola, Rugby, Hockey, Futsal, … apa lagi ya?

Dalam melakukan olah raga, pasti ada luka-luka. Jalan ada kesleo. Bela diri, kepukul, ketendang, patah tulang, dan seterusnya. Saya pernah pingsan dari harus dijahit gara-gara tidak serius dalam latihan bela diri. Main bola pasti ada baret, benjut, terkilir. Rubgy apa lagi, pasti baret dan benjutlah. he he he. Yang perlu kita perhatikan adalah agar cedera itu minimal dan cepat pulih. Juga agar cedera tidak terulang lagi. Hal lain yang penting juga adalah bagaimana agar kita tidak mencederai orang lain.

Agak aneh kalau kita ingin dunia yang ideal dan steril. Dunia tanpa baret dan benjut. Tidak ada!

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berinteraksi dengan manusia lain, tentunya kita akan mengalami “baret” dan “benjut” dalam bentuk yang berbeda. Kata-kata dan tingkah laku juga menimbulkan baret dan benjut juga, meskipun tidak terlihat secara fisik. Nah, yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menangani baret dan benjut ini serta tidak membuat baret dan benjut bagi orang lain.

[ditulis sambil tulang kering agak ngilu karena kemarin beradu pas futsal]

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

5 responses to “Baret dan Benjut Itu Biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: