Panci Halal

Dalam sebuah sesi mentoring entrepreneurship ada yang bertanya kepada saya.

Tanya (T): Bagaimana pendapat bapak tentang sertifikasi halal?
Saya (S): Baik-baik saja. [he he he. habis mau saya jawab apa?]
T: Maksud saya, apakah saya perlu melakukan sertifikasi halal untuk produk saya?
S: Apa produk kamu?

[Saya sudah membayangkan berbagai jenis makanan, siomay, tahu, juice, kopi, atau sejenisnyalah.]

T: Sandal, pak
S: (bengong)
T: Bagaimana, pak?

Hmmm… tidak terbayang oleh saya kenapa produk sandal perlu disertifikasi halal. Apa ada yang mau makan sandal ya? Ah, mungkin supaya dapat diyakinkan bahwa sandalnya terbuat dari kulit babi? Terus kalau tidak disertifikasi halal itu artinya haram?

S: Kalau menurut Anda, panci perlu disertifikasi halal tidak?
T: (setelah berpikir sejenak) Tidak, pak.
S: Nah.

Bisa kebayang oleh saya kalau ada panci yang memiliki sertifikasi halal. Apakah artinya panci yang lain tidak halal? Terus panci yang tidak disertifikasi halal itu tidak boleh dipakai memasak?

Bagaimana menurut Anda? Perlukah sandal (atau panci) ini disertifikasi halal?

Iklan

14 pemikiran pada “Panci Halal

  1. Mungkin ini seperti sikat gigi pak, yang (kabarnya) kontroversial karena ada yang menggunakan bristle/bulu babi. Bulu babi dari hewan babi, bukan bulu babi yang ada di laut.

  2. Ya begitulah pak, kadang kalau ngomongin halal/haram jadi pada lebay. Apalagi ada produk yang menjadikan sertifikat halal sebagai bahan untuk promosi yg gak pada tempatnya.

  3. Sepertinya lebih cocok untuk membuat sertifikasi haram saja. Haram kalau dicuri, haram kalau uangnya dari hasil korupsi, haram kalau dibuat untuk menyiksa, dll 😀

  4. Sejak kejadian jilbab halal, ada teman saya yang saya tahu tak mau makan apapun itu jika tak ada label halal tiba-tiba menjadi lebih ‘moderat’ dengan mengatakan “yang belum ada label halal belum tentu haram”

  5. Mengutip sedikit pemikiran Cak Nun, bahwa Indonesia ini adalah negara mayoritas Muslim, jadi sebaiknya sertifikasinya itu bukan untuk sertifikasi halal tapi sebaliknya yakni sertifikasi Haram.

  6. kalau dari babi itu semua nya haram, tidak boleh dimakan maupun digunakan.. bahkan pakaian pun kita bawa sholat (syarat sah shalat salah satu nya bersih dari hadast dan najis).. saat ini, proses pembuatan produk pangan dan pakaian itu sendiri sangat kompleks,tidak hanya bahan pokok tapi juga campuran, media dan sebagainya. kalau ada yang sudah mendaftarkan produknya di halal mui ya sah sah saja.. benar, bahwa semua yang belum sertifikasi halal MUI belum tentu haram.. lantas kenapa harus saling merendahkan? 😀

  7. Menurut saya, kalau jelas tidak ada hubungannya seperti panci ya nggak perlu sertifikasi halal. Tapi untuk makanan, yang terlihat tidak mungkin haram seperti roti maupun donat *nyentil sedikit*, jika perusahaannya sudah besar (yang suka ada di mal itu), seharusnya tetap melakukan sertifikasi.
    Kan harus berikan yang terbaik untuk konsumen, masa sertifikasi aja nggak kuat bayar? Malah jadi curiga ada apa-apanya 🙂

  8. Saya orang yg perhatian dengan produk halal. Tapi kalau untuk panci, saya rasa gak perlu lah haha. Toh, kalau panci terkontaminasi zat yang najis, kan tinggal dibersihkan saja…

    beda dengan makanan, kosmetik dan obat, ini tetap perlu.

  9. saya pikir semangat untuk sertifikasi halal suatu produk perlu kita apresiasi jika tujuannya memang melindungi konsumen. Yang jadi bahaya kalo sertifikasinya cuma untuk “jualan” 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s