Tag

, , , , ,

Dalam sebuah sesi mentoring entrepreneurship ada yang bertanya kepada saya.

Tanya (T): Bagaimana pendapat bapak tentang sertifikasi halal?
Saya (S): Baik-baik saja. [he he he. habis mau saya jawab apa?]
T: Maksud saya, apakah saya perlu melakukan sertifikasi halal untuk produk saya?
S: Apa produk kamu?

[Saya sudah membayangkan berbagai jenis makanan, siomay, tahu, juice, kopi, atau sejenisnyalah.]

T: Sandal, pak
S: (bengong)
T: Bagaimana, pak?

Hmmm… tidak terbayang oleh saya kenapa produk sandal perlu disertifikasi halal. Apa ada yang mau makan sandal ya? Ah, mungkin supaya dapat diyakinkan bahwa sandalnya terbuat dari kulit babi? Terus kalau tidak disertifikasi halal itu artinya haram?

S: Kalau menurut Anda, panci perlu disertifikasi halal tidak?
T: (setelah berpikir sejenak) Tidak, pak.
S: Nah.

Bisa kebayang oleh saya kalau ada panci yang memiliki sertifikasi halal. Apakah artinya panci yang lain tidak halal? Terus panci yang tidak disertifikasi halal itu tidak boleh dipakai memasak?

Bagaimana menurut Anda? Perlukah sandal (atau panci) ini disertifikasi halal?