Aku Berbeda!

Entah sejak kapan – seingat saya, sejak kecil – saya memahami bahwa saya berbeda. (Tidak bosan-bosannya saya menggunakan kalimat ini untuk memulai tulisan karena masih banyak orang yang belum mengerti maksud saya.) Untuk itu saya tidak pernah membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Hasilnya, saya merasa bahagia saja. Mungkin ini juga terjadi karena saya tidak peduli. he he he.

Sebagian besar orang membandingkan dirinya dengan orang lain. Hasilnya ada dua kemungkinan. Pertama, menjadi minder karena orang lain terlihat lebih sukses. (Perlu saya tebalkan kata “terlihat” karena kenyataannya sering terbalik.) Kemungkinan lain adalah menjadi sombong atau arogan karena orang lain terlihat gagal.

Sebagian besar orang ingin menjadi orang lain dan ingin terlihat hebat di mata orang lain. Misalnya, ada tetangga yang sekolahnya tinggi maka dia ingin sekolahnya tinggi juga. Bukan karena ingin ilmunya, tetapi karena ingin dilihat tinggi. Ingin dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ada yang menjadi pejabat, maka dia ingin menjadi pejabat juga. Ada yang kaya, maka dia ingin jadi kaya juga. Minder terus. Padahal, sesungguhnya dia tidak tahu yang dia inginkan.

Saya sendiri mendapat banyak tawaran untuk menjadi seperti orang lain. Dari mulai yang biasa sampai ke yang tingkatnya cukup tinggi. No thanks. Terima kasih. Tidak. Saya tidak mau itu. I know what I want and that’s not it. Saya berbeda bukan karena semata-mata ingin berbeda. Kebetulan yang saya inginkan dan cara saya mencapainya berbeda dengan mainstream.

Kasus yang saya hadapi karena berbeda ini banyak. Kebanyakan kasusnya kecil-kecil tapi di mata orang jadi besar. Sebagai contoh yang kecil, cara saya berpakaian. Saya berpakaian tidak serapih (baca: necis) orang-orang. Pakaian saya bersih. Tentu saja. (Untuk hal ini saya agak OCD. he he he.) Tetapi pakaian saya dianggap orang “tidak cocok” dengan status saya. Saya ke kampus pakai kaos, jeans, sepatu boots atau kets. Kalau pakai kemejapun biasanya tidak saya masukkan (tucked in), tetapi saya biarkan di luar. Nah, ini bikin gatel orang-orang di Indonesia sini karena katanya saya dosen dan S3. Harusnya pakai pakaian yang perlente. Bagi saya ini hal kecil, tetapi bagi orang ini masalah besar. Mungkin kalau saya kerja di Facebook ndak masalah karena si Mark juga pakaiannya seperti itu. ha ha ha. Poin saya adalah saya tidak tertarik untuk dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Mengenai “kesuksesan” orang lain, itu sebetulnya … ilusi. Saya jadi teringat lagu “Grand Illusion” dari band Styx. Silahkan cari liriknya dan pelajari. Di video yang saya sertakan ini juga ada introduction mengenai apa yang saya maksudkan. (Jangan-jangan tulisan ini sebetulnya hanya supaya saya bisa memposkan video ini. hi hi hi. Styx merupakan salah satu band kesukaan saya. Ini kesempatan untuk menuliskan sesuatu dengan link ke Styx.)

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

7 responses to “Aku Berbeda!

  • masbadar

    iya pak, maksud saya entahlah, terserah. tapi keunikan itu biasanya menjadi sebuah karakter, tanpa karakter, manusia hanya akan bla..bla.. entahlah, maksud saya terserah. Penyanyi, musisi, group, band, group, lawak sampe da’i dan politikus, kalo tidak berkarakter pada akhirnya akan menjadi entahlah, maksud saya terserah.

  • adeavi@yahoo.com

    Mana posting video Styx nya Bud?

    Trims, salam
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • herlambang

    Salut sama Pa Budi, semoga dosen lain ikut terinspirasi dengan gaya berpakaian Pa Budi, biar suasana kampus ITB nggak terlalu formal dan serius (kecuali kalo lagi wisuda ya apa boleh buat), lanjutkan🙂

  • Rully Tri Cahyono

    Salam kenal, Pak Budi. Saya pembaca setia blog bapak. Kita kolega di ITB, tapi berbeda jurusan, dan saya masih junior.

    Saya setiap kali ke kantor juga pakai jeans, sepatu kets/boots dan seringnya polo-shirt. Pakai kemeja belum tentu sebulan 2x. Alhamdulillah jarang yang komen, Pak. Hehe.

  • Tatang Tox

    Tapi meskipun Pak Budi ini “berbeda”, bagi saya, Bapak tetaplah “luar biasa”.:mrgreen:

  • Lena Goeltom

    Sebetulnya ilusi juga bisa begini, benar memang pak budi yang posting blog ini ? karena tidak bisa lihat aslinya/ kebenarannya maka itu jadi sebuah ilusi… hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: