Kurang Inisiatif dan Secukupnya Saja

Hasil ngobrol-ngobrol dengan sesama teman yang memiliki perusahaan dan juga dengan dosen-dosen, nampaknya ada benang merah dari SDM saat ini. Menurut saya ada dua hal yang sangat bermasalah, yaitu (1) kurang inisiatif, dan (2) bekerja (berusaha) secukupnya saja.

Anak-anak (SDM) sekarang kurang inisiatif. Untuk melakukan sesuatu harus disuruh. Bahkan disuruhnyapun harus rinci dan spesifik. Dalam presentasi sebuah studio animasi minggu lalu, dikatakan bahwa animator sekarang harus diberitahu detail. Tidak bisa lagi disuruh, misalnya, buat “si karakter itu memberi sesuatu ke lawannya”. Nah “memberi sesuatu” itu harus dijabarkan oleh kita, sang pemberi pemerintah. Mereka tidak bisa memiliki inisiatif sendiri menjabarkan itu.

Menurut saya hal ini disebabkan mereka takut salah. Takut kalau mengambil inisiatif ternyata bukan itu yang dimaksud. Padahal salah adalah biasa. Sistem pendidikan dan lingkungan terlalu menghukum orang yang salah jalan. Akibatnya orang takut untuk berinisiatif.

Masalah kedua adalah bekerja secukupnya saja. Kalau diberi tugas A, ya yang dikerjakan hanya A saja. Mereka tidak tertarik untuk mengerjakan A+ atau A, B, C, … dan seterusnya. Padahal justru prestasi itu dicapai ketika mereka bekerja melebihi dari yang diharapkan.

Hal ini mungkin disebabkan oleh hilangnya keingintahuan (curiousity). Entah ini karena malas atau karena mereka melihat orang lain (kawannya) tidak melakukan maka dia juga tidak melakukannya. Untuk apa lebih?

Cukup ah ngomel pagi-pagi ini.

Iklan

11 pemikiran pada “Kurang Inisiatif dan Secukupnya Saja

  1. Mungkin ada pengaruh dari kemudahan mengerjakan sesuatu berkat teknologi yang membuat inisiatif jadi berkurang, (semua sudah ada yang mikirin dan mewujudkan, terutama oleh bangsa dari luar negeri, jadi buat apa di kerjakan ulang, lebih baik browsing sambil dengerin music ha ha ha). Usaha banyak yang secukupnya/kurang maksimal bisa jadi disebabkan mereka sudah punya pemasukan dari sektor yang lainnya seperti jadi PNS atau mengajar, jadi ya perusahaan hanya untuk tambahan pemasukan saja atau kurang diutamakan atau nggak fokus kali ya (multi tasking) 🙂

  2. memang betul sekali om, tapi kadang hal ini datang dari keluarga yang kaya, sejak dininya selalu memanjakan anak. tapi beda lagi dengan anak yang berasal dari keluarga miskin,, sudah biasa hidup perih dari kecil kelak dewasa suka ngelakuin kerja di luar batas hehe kaya ane tapi belum dapet kesuksesan mungkin perih nya agak lama suksesnya nanti kelak jika udah tua hehe…

  3. Bacaan menarik,
    Namun CMIIW,
    hanya saja bisa jadi bukan 100% kesalahan berada dari SDM,
    saya bergelut dibidang ini cukup lama satu hal yang sering muncul adalah masalah coaching, pemberi kerja sekarang juga kurang memberikan coaching (ingin langsung dapat yang pro dengan cost murah tidak mau ambil pusing resikonya namanya sdm pasti bukan skill saja yang mereka punya ada pun resiko baik masalah dikantor maupun masalah pribadi), dalam ekosistem kerja bisa jadi tidak semua sama, tapi jika diperlakukan dengan cara coaching kita bisa dapat result yang sama atau bahkan lebih baik dari sdm yang bersangkutan jika dibanding dengan kawan sejawatnya. Disinilah sistem itu sudah tidak ada, ingat salah satu contohnya adalah asisten dosen, atau asisten lab, semua dilakukan dengan coaching. Ada juga faktor lain seperti, politik kantor, ini juga sering membuat sdm berbuat demikian, banyak juga faktor lain yang bersifat kurang membangun. The devil is on the detail, jadi saya cenderung melihat detail masalah per sdm dan tidak menyamakan/mengeneraliasirnya.

  4. Sebab batasan pekerjaan yang jelas antara kedua belah pihak dibutuhkan sebagai dasar penilaian. Ketika si pekerja sudah bekerja A B C D E tetapi si pemberi pekerja hanya menilai poin A maka pekerjaan B C D E pun resmi menjadi pekerjaan amal jariah.

  5. mungkin saja rasa takut itu disebabkan mereka pernah mengalami sesuatu yang fatal sehingga mereka tidak inovatif
    apaalagi anak di bawah umur yang mindsetnya sudah tercemari oleh kekerasan, mereka akan penakut untuk melakukan kreatifitas karena takut salah.

  6. kalo gak punya inisiatif penyebab yang bapak ajukan mendekati yang saya alami, saya males dapet revisi dari klien, jadi mending minta klien ngasi brief sejelas mungkin.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s