Wartawan Kurang Riset

Baru-baru ini terjadi dialog seperti ini.

Wartawan (W): Pak, besok bisa ketemuan untuk wawancara
Saya (S): Ok. Tapi siang ya.
W: Baik pak. Tempatnya dimana?
S: Mungkin seputaran ITB atau jalan Dago.
W: Lho? Bapak di Bandung? Saya kira di Jakarta.
[Saya ingin membanting handphone. he he he]

Saya jadi bertanya-tanya. Kenapa ya saya yang mau diwawancara? Alasannya apa? Kemudian, apakah sang wartawan tidak melakukan riset dulu mengenai (kredibilitas) nara sumbernya? Siapa dia? Latar belakangnya? dan lain-lain. Dengan sedikit riset, seharusnya yang bersangkutan tahu bahwa saya ini basisnya di Bandung. Atau mungkin dia disuruh?

Atau … mungkin salah “budi rahardjo”. Mungkin seharusnya dia mewawancara “budi rahardjo” yang lain?

Mudah-mudahan ini bukan potret umum. Ataukah?

6 Comments

  1. terus terang, saya beli buku karena penulisnya tertulis Budi Raharjo. ternyata salah orang :))
    penasaran sih, lha pak budi nulis python? 😀
    *ndak ada kaitannya dengan wartawan itu sih* 😀

  2. […] [2] risetlah terlebih dahulu sebelum berita disajikan (research). Wartawan yang tidak riset akan kelimpungan memproses berita. Saat wawancara, dia tak punya arahan. Tidak ada bahan untuk diperbandingkan dengan pernyataan narasumber. Yang sangat parah adalah pengalaman yang dialami oleh para Budi Raharjo sebagaimana diceritakan dalam blognya, Wartawan Kurang Riset. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s