Tag

,

Sering kesel juga melihat orang yang kurang usaha. Kerja hanya secukupnya saja. Tidak mau melakukan yang terbaik. Excellent.

Saya selalu teringat cerita (entah betul atau tidak) tentang Steve Jobs. Suatu hari, dia disuruh ayahnya untuk mengecat pagar. Bagian luar sudah dia cat, bagian dalamnya tidak. Pikir dia sudah selesai. Kemudian dia ditegur ayahnya, kenapa bagian dalamnya tidak dia cat? Steve menjawab, untuk apa? Toh tidak kelihatan? Jawaban ayahnya adalah, biarpun tidak kelihatan tapi kita tahu itu tidak dicat, belum selesai. Nah. Akhirnya dia menjadi perfectionist. he he he.

Dalam bekerja juga demikian. Banyak yang ngasal saja. Asal tugasnya selesai saja. Selama persyaratan “administratif” terpenuhi, sudah. Ini mulai dari pekerja level tukang sapu sampai bos (direktur). Sama saja. Tukang bersih-bersih ngasal kerjanya, yang penting lantai sudah disapu dan meja sudah dilap. Mengenai hasilnya tidak bersih, dia tidak peduli. Yang penting tugas sudah dilakukan. Begitulah.

Mahasiswa juga begitu. Mengerjakan tugas dengan asal selesai saja. Asal mengerjakan tugas. Dia tidak ingin tugasnya bagus. Alasannya tentu saja sibuk. Sama. Semua orang juga sibuk. Kalau sekarang saja – pas jadi mahasiswa – tidak bisa menangani kesibukan, tunggu saja nanti kalau sudah kerja. Kesibukannya bahkan lebih dari itu. Pasti mahasiswa tidak percaya. Yang sudah (sedang) bekerja pasti dapat mengkonfirmasikan ini. he he he.

Beberapa waktu yang lalu ada orang-orang yang menghubungi saya karena meminta saya untuk menjadi pembicara di acara mereka (atau wawancara, atau apalah). Mereka main telepon saja dan tidak mau cari tahu siapa saya dan skedul saya seperti apa. (Sedikit banyak yang ini sudah saya bahas.) Padahal kalau mereka mau tahu, mereka bisa membuka berbagai media sosial saya (facebook, twitter, dan blog) untuk mengetahui kesibukan saya sehingga dapat mencocokkan dengan acara mereka. Ini salah satu contoh kerja yang ngasal juga.