Empati Kepada Sesama

Sebetulnya saya tidak ingin menulis apa yang akan saya tuliskan ini.  Pertama, saya tidak suka menceritakan hal-hal baik yang saya kerjakan karena saya khawatir ini akan menjadi riya. Kedua, saya kurang suka menuliskan hal-hal yang berbau mengajari. Who am I to tell you? Saya sama dengan kalian semua. I am not holier than thou. Saya tidak lebih suci dari Anda. Tetapi, saya pikir ada lebih banyak manfaat yang diperoleh dengan menceritakan ini. Sekalian ini juga untuk mengeluarkan uneg-uneg saya.

Tadi pagi ada tetangga yang meninggal. Saya tidak kenal. Tetapi, tetangga adalah tetangga. Maka ketika masjid sebelah memberitahukan akan ada shalat jenazah, saya ikutan. Sebetulnya tadinya ada perasaan enggan juga. Saya tidak kenal. Toh sudah ada orang lain yang melakukan shalat jenazah. Fardu kifayah sudah terpenuhi. Tetapi kok hati kecil merasa bersalah. Sebagai sesama manusia, sudah sepantasnya kita menghargai manusia lainnya. Bayangkan, kalau orang-orang sepemikiran saya semua – malas sekedar ikut shalat jenazah – maka ketidakpedulian ini akan semakin akut. Mana empati kita?

Dua baris lelaki dan satu baris perempuan yang ikut shalat jenazah. Kami mendoakanmu. Semoga nanti ketika waktunya, banyak orang yang mau menshalatkan kita.

Lepas shalat, keranda digotong ke pemakanan di atas. Tidak jauh dari tempat kami, kurang dari 1 Km, ada tempat pemakaman.

Lagi-lagi ada konflik. Sudah cukup saya ikut shalat jenazah. Saya tidak harus ikut mengantarkan ke liang lahat, bukan? Tapi, lagi-lagi saya merasa bersalah. Dia juga manusia. Mengapa tidak ikut mengantarkan? Toh, ada waktunya juga. Toh saya tidak sedang mengerjakan sesuatu yang super penting juga. Maka saya ikutlah dalam rombongan ke makam.

Dari orang-orang yang hadir, mungkin saya hanya kenal setengahnya. Ah, ini menunjukkan modernisasi – lepas hubungan dengan tetangga. Sebetulnya saya pun tidak ingin chit-chat dengan yang saya kenal. Saya juga tidak ingin menunjukkan diri bahwa saya hadir. Saya hanya sekedar berempati sesama manusia, mengantarkan ke liang lahat.

Saya tidak menyalahkan tetangga-tetangga lain yang tidak ikut. Mereka punya alasan masing-masing. Saya, tadi, tidak punya alasan untuk tidak ikut. Alasan saya tadi hanya malas saja. Ah.

Apa sebetulnya poin yang ingin saya sampaikan? Berempatilah! Tidak susah berempati. Syaratnya hanya sekedar MAU saja. Lepaskan ego kita. Apa yang kita hadapi bukanlah yang paling berat di dunia ini. Kita bukan siapa-siapa. Di tengah-tengah kemajuan jaman dan ketergantungan manusia pada teknologi yang membuat manusia menyendiri, berempati kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang mulai sirna.

[Aku memohon ampun kepada Allah swt atas tulisan ini. Ya, Allah, jauhkan aku dari riya. Mohon maaf untuk yang tidak berkenan.]

 

 

 

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

16 responses to “Empati Kepada Sesama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: