Apakah Kita Bodoh?

Apakah orang Indonesia itu dianggap bodoh ya? Tidak cukup otaknya untuk berpikir sendiri sehingga harus dituntun. Patronized. Bahkan untuk hal-hal yang sederhana (trivial) sekalipun harus diberitahu.

Saya ambil contoh dalam cerita-cerita (film, sinetron, [entah apakah komik juga?]) di Indonesia. Misalnya ada seseorang yang menunggu lama sekali. Yang ditampilkan adalah seseorang yang berkata, “Duuuh. Saya sudah menunggu lama sekali”. Sementara itu kalau di luar negeri lain lagi. Untuk contoh yang sama – orang yang menunggu lama sekali – yang digambarkan adalah seseorang yang terdiam, di sekitarnya ada asbak dengan banyak puntung rokok. Atau di sekitarnya ada beberapa kaleng minuman atau piring yang menumpuk, banyak kertas diremas-remas berantakan, buku menumpuk, atau sejenisnya. Tidak perlu dikatakan “saya menunggu lama sekali”. Untuk contoh yang ini kita diajarkan untuk berpikir dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa orang tersebut sudah menunggu lama sekali.

Akibat dari pemikiran bawah orang lain itu bodoh, maka “mereka” (orang lain itu) harus diatur.

  • Internet harus diblokir karena “mereka” tidak dapat membedakan mana yang pantas dan tidak pantas.
  • Acara-acara digeruduk karena “mereka” tidak dapat membedakan acara yang baik dan benar.
  • Buku-buku, bacaan, diberangkus karena “mereka” tidak dapat berpikir dan mencerna mana yang baik/sesuai dan mana yang tidak. Mereka pasti akan terpengaruh. Mereka tidak cukup otaknya untuk memilah.
  • Acara yang berbeda keimanan digeruduk karena keimanan “mereka” masih lemah sehingga nanti pindah akidah.
  • dan seterusnya …

update.

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

16 responses to “Apakah Kita Bodoh?

  • masbadar

    Anak TK tahu jika Indonesia kaya dengan keragaman. Ada di bawah lambang negara, tentu kita memang bodoh jika keragaman hanya soal SARA saja, bukan pak. Isi kepala dan pendapat beragam, isi dompet dan pendapatan juga beragam, alhasil kemampuan berpikir karena keterbatasan biaya menjangkau pendidikan pasti berbeda-beda. Jika sebuah buku dan tayangan atau apapun menjadi bisa diakses publik yang beragam aneka macam, siapa yang akan menjadi bodoh tanpa memikirkan konsekuensinya. Ayolah… satu situs diblokir, satu buku diberangus, bagi orang pinter macam Anda dan golongan Anda tentu tidak masalah. Kita, Indonesia, mereka, saya dan Anda, punya tingkat kecerdasan yang berbeda-beda, pun memiliki tingkat kebodohan yang berbeda-beda. Dan seterusnya..

    (perhatian; ini adalah komentar paling bodoh)

  • Emanuel Setio Dewo

    Memang sih, tapi itu karena saking besarnya perbedaan antara yang pintar dengan yang bodoh. Mungkin bisa digambarkan sebagai piramida dimana struktur bawah adalah yg bodoh, tengah adalah sedang dan atas adalah pintar. Mungkin masyarakat Indonesia banyak mendominasi struktur bawah, sedangkan yang atas amat-sangat sedikit.

    Mau tidak mau ya begitu supaya bisa diterima oleh kalangan masyarakat luas.

    Namun tidak boleh dilupakan kalau film, bacaan, buku utk kalangan atas juga tetap tersedia. Atau bisa juga kalangan pintar membaca atau menonton film luar negeri, toh semestinya tidak terkendala bahasa, hehehe…

    Kalau saya sih yakin kalau masyarakat kita perlahan menuju ke arah pintar/maju terutama dengan semakin cepatnya penetrasi teknologi di semua segmen masyarakat.

    Cemungud…

  • bloger

    iya soalnya semua berjalan seimbang.. ada pintar ada bodoh.. mangkanya disebut manusia yang hidup dan berubah ubah.. keimanan aja bisa naik turun apalagi yang benar dan merasa benar sendiri. biasanya sih golongan yang merasa benar sendiri..😛

  • jarwadi

    kayakanya memang sedemikan bod ,,, ah sudahlah

  • dedy

    Itu kalau tujuannya ke anak di bawah umur mungkin, krn mereka belum bisa menentukan mana yang baik dan yang benar.
    Tapi untuk kita yang dewasa dan sudah cukup akal, pengetahuan itu bisa digunakan untuk hal-hal yang negatif, misalnya membuat bom, mengajak ke paham yang menyimpang dll

  • lotijewelry

    Berat juga pembahasannya, tapi memang sepertinya kita lebih suka diarahkan dengan mudah

  • temancantik

    Hal tersebut sudah mengakar bos… Dan sepertinya sudah “membudaya” di negeri ini…

  • ipasuheti

    nyimak deh..bagus banget

  • RAF

    Kadang dan sesekali harus diatur setiap tindakan atau perbuatan, apalagi itu berhubungan dengan masyarakat banyak. Tidak semua orang mampu untuk memfilter, dan tidak semua orang mampu untuk berpikir cerdas.. Kalau diibaratkan film seperti postingan diatas, mungkin sebagian lagi bisa mengibaratkan ke yg lebih ekstrim.. Misalnya, kitab suci agama saja bahkan jelas jelas mengatur mana boleh mana yang tidak, dan jelas tindakan tertentu perlu diberi sanksi…

    Kalau dalam urusan masyarakat banyak semua orang mampu mefilter dan berbuat sesuai dengan idealnya.. Mungkin lebih baik buang saja undang undang.😀 ,. #eh..

  • naive investor (@InvestorNaive)

    Orang Indonesia itu tidak bodoh, tapi manja. Dari kecil perhatian keluarga ke anak. Begitu besar maunya yang mudah saja. Software bajak, listrik maling, buang sampah dimana aja. Badannya saja yang dewasa. Manjanya masih kayak anak tk

  • Ariesusduabelas2

    toleransi. mmh!

  • Gigih

    Itulah Indonesia, di negeri yang beraneka ragam seperti ini manusia juga beragam, ada yang rajin, malas, bodoh, dan pintar… di Indonesia ada semua…pintarnya pendiri bangsa ini ya, yang bikin semboyan “Bhinekka Tunggal Ika”…

  • maderic

    makanya sekarang itu orang seperti pintar namun pintar yang buruk

  • Jumanto

    Orang Indonesia pintar pintar kok, kaya Pak Budi Rahardjo ini hehe

  • memedjuna

    hmm ya setuju pak , menurut saya bangsa yang baik harus mempunyai Manusia yang menghargai kedisiplinan dan kepatuhan, ketika semua sudah menghargai disiplin dan patuh akan aturan, maka akan ayem tentrem hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: