Tag

, ,

Apakah orang Indonesia itu dianggap bodoh ya? Tidak cukup otaknya untuk berpikir sendiri sehingga harus dituntun. Patronized. Bahkan untuk hal-hal yang sederhana (trivial) sekalipun harus diberitahu.

Saya ambil contoh dalam cerita-cerita (film, sinetron, [entah apakah komik juga?]) di Indonesia. Misalnya ada seseorang yang menunggu lama sekali. Yang ditampilkan adalah seseorang yang berkata, “Duuuh. Saya sudah menunggu lama sekali”. Sementara itu kalau di luar negeri lain lagi. Untuk contoh yang sama – orang yang menunggu lama sekali – yang digambarkan adalah seseorang yang terdiam, di sekitarnya ada asbak dengan banyak puntung rokok. Atau di sekitarnya ada beberapa kaleng minuman atau piring yang menumpuk, banyak kertas diremas-remas berantakan, buku menumpuk, atau sejenisnya. Tidak perlu dikatakan “saya menunggu lama sekali”. Untuk contoh yang ini kita diajarkan untuk berpikir dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa orang tersebut sudah menunggu lama sekali.

Akibat dari pemikiran bawah orang lain itu bodoh, maka “mereka” (orang lain itu) harus diatur.

  • Internet harus diblokir karena “mereka” tidak dapat membedakan mana yang pantas dan tidak pantas.
  • Acara-acara digeruduk karena “mereka” tidak dapat membedakan acara yang baik dan benar.
  • Buku-buku, bacaan, diberangkus karena “mereka” tidak dapat berpikir dan mencerna mana yang baik/sesuai dan mana yang tidak. Mereka pasti akan terpengaruh. Mereka tidak cukup otaknya untuk memilah.
  • Acara yang berbeda keimanan digeruduk karena keimanan “mereka” masih lemah sehingga nanti pindah akidah.
  • dan seterusnya …

update.