Tag

, ,

Sekarang banyak orang yang menggunakan kemiskinan sebagai alasan; “kami rakyat kecil”, “kami orang miskin”, dan seterusnya. Seakan-akan kalau sudah miskin itu boleh melanggar hukum. Ini contohnya: karena saya tidak bisa buat garasi, maka mobil saya parkir di pinggir jalan (dan mengganggu lalu lintas, yang mana digunakan oleh orang yang lebih miskin – yang  tidak punya mobil). Apa “miskin”nya dari punya mobil ya?

Minta dikasihani. Itu intinya. Semakin miskin semakin harus dikasihani. Maka yang terjadi adalah adu kemiskinan. Bukan adu perjuangan.

Kemarin ada demo angkutan umum karena adanya peluncuran layanan bis gratis untuk siswa dan karyawan. Salah satu poster yang terpasang di angkot mengatakan bahwa mereka (angkot) ini adalah orang miskin, bis gratis ini menganggu pendapatan mereka. Mereka lupa bahwa orang yang dilayani oleh bis-bis ini ada banyak orang yang tidak punya kendaraan sendiri (sehingga harus naik bis itu). Apa harus diadu kemiskinan antar mereka?

Lihat juga pengamen yang memilih angkutan kota untuk meminta duit dari pengendara angkutan kota ini (yang mana duitnya cekak dulu). Aneh saja. Mosok minta ke orang yang sama-sama (atau malahan lebih) tidak punya uang. Adu kemiskinan lagi?

Kalau dilihat, malah orang yang betulan miskin tidak menggunakan alasan itu. Mereka lebih memiliki harga diri dan berjuang lebih keras. Sementara itu banyak orang yang merasa miskin.

Hadoh … Memalukan orang-orang yang menggunakan alasan kemiskinan ini.