Tag

,

Awal bulan puasa ini tiba-tiba jalan di depan rumah dicor. Awal pengecoran dari atas dekat jalan masuk ke perumahan. (Perumahaan yang mana? Penjelasan yang tidak jelas. Hi hi hi. Biarlah. Percayalah ada perumahan di atas.) Batas akhirnya adalah batas antara Kabupaten dan Kotamadya. Saya tinggal di bagian yang Kabupaten. Lumayan panjang.

Ketika sedang dicor, luar biasa repotnya karena setengah jalan tidak dapat dilewati. Hanya satu sisi yang dapat dilewati. Kendaraan harus digilir yang lewat sampai ruas-ruas tertentu. Pokoknya jadi malas keluar rumah.

Nah, yang lebih “menarik” adalah pengecoran dilakukan berdasarkan lebar yang sudah ditentukan oleh sang pemborong. Untuk jalan yang lebih lebar, seperti di depan rumah saya, ada bagian yang tidak kena jatah cor. Hadoh. (Kami memang sengaja membangun mundur untuk memberikan ruang yang lebih lebar untuk jalan.) Ini fotonya.

P_20160705_090755 0001

Perhatikan bagian sebelah kanan yang tiba-tiba habis saja. Pasalnya cor-corannya ini cukup tinggi juga (mungkin hampir 30 cm?). Sisa yang belum dicor itu belum tahu mau diapakan. Nampaknya sang pemborong lepas tangan. Jadi kami harus mengecor sendiri? Lumayan juga biayanya. Hmm.

Yang menjadi masalah adalah kami khawatir akan keselamatan orang yang menggunakan jalan ini. Kalau malam dan hujan batas pinggirnya tiak terlalu kelihatan. Kalau orang hanya mengandalkan batas pagar, maka dia bisa saja tidak sadar (tidak melihat) bahwa jalannya itu tiba-tiba habis. Sementara ini kami beri tanda pakai tanaman. Sementara. Mungkin harus lebih banyak tanaman lagi yang lebih tinggi sebagai tanda. Sambil bersiap-siap mau diapakan sisi yang belum dicor itu. Mungkin akan diurug dengan brankal dulu. Sedikit demi sedikit nanti disemen juga lah.

Terpikir juga, proyek-proyek di Indonesia itu dikerjakan seperti ini. Tanggung. Masyarakat yang kemudian harus menanggung sisanya. Hmm…