Kewarganegaraan 1.0

Setiap bercerita di depan kelas, atau memulai presentasi, sering saya bercerita tentang perjalanan hidup saya. Saat ini saya sedang dalam versi “3.3”. Ha ha ha. Kayak software saja. Tapi begitulah. Penomoran ini sebetulnya terinsipirasi dari buku karangan Thomas Friedman. (Dia mengarang banyak buku, seperti “The World is Flat” and “The Lexus and Olive Tree”. Tentang globalisasi.)

Friedman bercerita bahwa globalisasi memiliki versi. Pada versi 1.0, globalisasi ditandai dengan keinginan orang untuk menjadi warga negara lain, yaitu warga negera besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan seterusnya. Ini jaman dahulu kala. Kalau kita baca sejarah Indonesia, ada banyak orang Indonesia yang ingin bergabung menjadi bangsa penjajah (“Londo”) karena sangat menyedihkan kalau kita menjadi warga negara terjajah. Ini kewarganegaraan 1.0.

Globalisasi 2.0 terjadi dan kewarganegaraan tidak penting lagi. Yang penting adalah tempat kita bekerja, yaitu multinational companies. Maka banyak mahasiswa yang ditanya kalau lulus mau kerja dimana, jawabannya adalah perusahaan besar seperti Schlumberger, IBM, Citibank, Microsoft, General Electric, dan seterusnya. Dalam perusahaan besar tersebut kewarganegaraan tidak penting lagi. Menjadi “warga negara” perusahaan besar menjadi lebih penting.

Globalisasi 3.0 terjadi karena adanya internet dan pemanfaatan teknologi informasi. Batas fisik dunia tidak ada lagi. Maka tidak penting lagi kewarganegaraan dan perusahaan tempat bekerja, tetapi yang penting adalah diri kita sendiri. You! Maknanya adalah yang lebih penting lagi adalah apa kontribusi Anda ke dunia. What’s your contribution to society.

Maka kalau sekarang kita masih meributkan tentang kewarganegaraan maka sebetulnya kita masih berada pada globalisasi 1.0. Sudah ketinggalan jaman.

Iklan

12 pemikiran pada “Kewarganegaraan 1.0

  1. Sebenarnya logika ini bisa dibalik Pak. Karena maksud dari globalisasi v3.0 adalah agar _seseorang_ tidak lagi _harus_ berkeinginan menjadi warga negara lain. Sekarang permasalahannya jika ada seseorang, sebut saja si A, yang awalnya merupakan warga negara B, kemudian dia menjadi warga negara C, bukankah berarti si A yang mempermasalahkan kewarganegaraannya? Bukankah berarti si A yang ketinggalan jaman?

    Cuma renungan saja, thanks for the write up!

  2. “Maknanya adalah yang lebih penting lagi adalah apa kontribusi Anda ke dunia. What’s your contribution to society.”

    Suka dengan quote itu Pak. Karena itu juga merupakan salah satu isi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bahwa sebagai mahasiswa selain menuntut ilmu untuk diri sendiri namun juga harus memiliki nilai bagi masyarakat, negara, dan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s