Gelas Yang Penuh

Perjalanan hidup seseorang membentuk karakternya. Saya bersyukur melalui jalan hidup yang diberikan kepada saya. Lengkap dengan positif dan negatifnya. Komplit. Hasilnya adalah saya menjadi seseorang yang (mudah-mudahan) selalu bersykur dengan apapun yang saya peroleh. Positif thinking. Dalam perdebatan gelas yang setengah kosong atau gelas yang setengah isi, mungkin saya menyebutnya gelas yang hampir penuh. ha ha ha.

Hal yang membuat saya demikian mungkin karena saya sudah melalui masa susah juga. Bahkan pada masa susahpun saya masih dapat melihat orang lain yang lebih susah lagi dari saya, sehingga saya masih dapat bersyukur. Jadi mungkin kuncinya adalah mencari dan melihat orang lain yang lebih menderita? ha ha ha. Mellow tetap ada, tetapi tetap bersyukur.

Apakah kemampuan untuk bersyukur ini dapat diajarkan? Saya tidak tahu. Mestinya sih iya, tetapi bagaimana mengajarkannya itu yang saya tidak tahu. Ada orang yang melihat orang lain lebih susah, tapi bukannya bersyukur tapi malah tetap menggerutu. ha ha ha. Tetap saja negatif. Mungkin ini bukan ilmu, tapi seni. The art of grateful.

Alhamdulillah … masih bisa bersyukur.

Iklan

2 pemikiran pada “Gelas Yang Penuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s