Adil

Pernahkah engkau merasakan keadilan?

Jadi ceritanya saya melihat banyak orang yang berteriak-teriak tentang keadilan. Dalam hati saya bertanya, pernahkah mereka merasakan keadilan? Lupakan soal definisi keadilan dahulu. Gunakan nurani dahulu untuk mendefinisikannya. Jangan-jangan mereka belum pernah merasakan atau bahkan melihat keadilan.

Di Indonesia, banyak orang berebut di jalan. Demikian pula di berbagai layanan, ada banyak yang tidak ingin antri. Mengapa? Dugaan saya adalah karena mereka khawatir tidak mendapat giliran. Dengan kata lain, tidak mendapatkan keadilan. Jika mereka yakin bahwa ada keadilan, pasti mereka akan kebagian. Bahwa akan tiba datangnya giliran saya, maka saya bisa bersabar.

Kalau saya sudah menunggu, kemudian ada orang menyela dan malah dia yang dilayani dahulu, maka saya merasa tidak adil. Maka saya tidak akan membiarkan orang lain mendahului saya. Saya pun tidak akan memberikan mengalah atau memberikan giliran kepada orang lain, karena nantinya saya malah tidak mendapat giliran.

Dalam mengemudi, saya termasuk yang banyak mengalah. Memberi jalan bagi orang lain. Sering kali orang yang saya beri jalan malah bingung, karena biasanya orang lain tidak memberi jalan. Demikian pula saya sering ketawa (meringis lebih tepatnya) dengan orang yang “memberi lampu dim” untuk minta jalan. Apalagi yang berkali-kali memberi lampu dim itu. Seolah-olah berkata, “Awaaasss … saya mau jalan”. Ha ha ha. Tanpa diberi lampu pun saya sudah biasa memberi jalan. Anda / dia bukan lawan saya. Mengapa perlu dihalang-halangi? Toh saya akan mendapat giliran juga. Adil.

Keadilan justru lebih mudah dilihat di luar negeri. Di negeri yang sudah maju tentunya. Di negeri itu, kita akan mendapat keadilan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Tidak perlu khawatir tidak kebagian.

Benar juga kata sebagian orang bahwa masalah yang ada ini mungkin dapat dipecahkan dengan piknik ke luar negeri. ha ha ha. Tentunya maksudnya belajar dari luar negeri. Ambil kebiasaan atau budaya baiknya. Jangan malah membawa kebiasaan buruk kita ke luar negeri. ha ha ha. Perhatikan bagaimana keadilan terjadi di sana.

Maka, mulailah terbayang apa yang disebut dengan “adil”.

Iklan

3 pemikiran pada “Adil

  1. Nah itu pak pengalaman di jalannya sama. Ngasih jalan ketika di pertiggan ke kendaraan yang mau belok malah diklakson sama kendaraan di belakang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s