Tentang Pemblokiran Telegram

Beberapa hari yang lalu dunia siber Indonesia dihebohkan oleh keputusan pemerintah Indonesia (dalam hal ini Kominfo) yang memblokir layanan telegram. (Yang diblokir adalah layanan via web dulu, kemudian akan diblokir yang aplikasi mobile-nya.) Pengelola telegram dianggap tidak kooperatif dalam memblokir layanan telegram untuk group-group yang terkait dengan terorisme.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah ini. Menurut saya cara ini tidak efektif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, telegram bukan satu-satunya media komunikasi yang digunakan oleh teroris. WhatsApp dan aplikasi lain juga digunakan. Mengapa hanya telegram yang diblokir? Fitur yang ada di WA pun sama dengan yang ada di telegram. (Dahulu memang WA tidak memiliki fitur enkripsi sehingga mudah disadap, sekarang dia memiliki fitur itu.)

Kedua, keputusan pemerintah ini malah menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu melakukan (counter-)intelligence terhadap pengguna telegram. Ini makin menunjukkan bahwa telegram merupakan platform yang bagus untuk digunakan karena tidak bisa diatasi oleh pemerintah Indonesia. Wah.

Ketiga, banyak orang (perusahaan, organisasi, individu) yang mengembangkan aplikasi di atas telegram ini. Aplikasi tersebut berbentuk “bot” (robot, chat-bot) yang dapat diprogram sesuai dengan perintah (teks) yang diberikan oleh pengguna. (Machine learning / artificial intelligence) Contohnya antara lain, early warning system, help desk, payment chatbot, dan seterusnya. Inovasi-inovasi ini terbunuh begitu saja. Telegram sekarang dapat dianggap sebagai “infrastruktur” seperti halnya YouTube.

my students_0001
sebagian dari topik penelitian mahasiswa saya. yang paling bawah tentang enkripsi yang digunakan oleh berbagai aplikasi chat

Terakhir, kalau sedikit-sedikit blokir – trigger friendly – maka ada kekhawatiran akan apa saja yang akan dilakukan di kemudian hari. Ketidak pastian. Ini buruk bagi bisnis (dan penelitian).

Iklan

16 pemikiran pada “Tentang Pemblokiran Telegram

  1. …………….. masih baguslah kalo’ teroris itu make’ aplikasi yang ketahuan “juntrungan”-nya seperti Telegram dll, mestinya selalu bisa dilacak, walau pun mungkin sulit. Kalo’ mereka malah pake’ aplikasi yang “completely unknown”, apa ndak malah makin “repot”?

  2. Akankah langkah pemerintah memblokir Telegram berimbas effektif dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme? Apa sebenarnya akar masalah yang menyebabkan para pelaku teror semakin menjadi dan semakin pintar memilih jaringan komunikasi online mereka? Telah hadir bersama kami pejabat anu dan pakar anu serta di ujung telepon telah tersambung dengan pengamat anu dari lembaga anu.. nganu kabeh.

  3. Kalau ini komentar saya

    Pemblokiran Telegram

    Saya banyak menerima pertanyaan baik via media sosial maupun via telpon, sebagai orang IT koq nggak bersuara sih soal pemberangusan demokrasi oleh Pemerintah ini, katanya begitu.
    Saya tidak mau bicara soal demokrasi atau HAM atau politik karena bukan bidang kepakaran saya. Kepakaran saya adalah bidang IT.
    Menurut saya malah sebaiknya semua media sosial yang berpusat di negara asing diblokir saja untuk trafik dalam negeri. Media sosial asimg tersebut silahkan kalau mau digunakan untuk berkomunikasi dengan dunia luar saja.
    Dengan diblokirnya media2 sosial tersebut, maka akan timbul demand terhadap adanya media sosial dari jutaan pengguna media sosial. Dan percayalah bahwa dari generasi sekarang yaitu Gen-C (creative, connected, dan collaborative) akan lahir sebuah solusi media sosial buatan Indonesia yang dapat digunakan untuk bergaul di dunia cyber bagi masyarakat Indonesia.
    Dengan demikian selain meningkatkan kemandirian bangsa dalam urusan media sosial, juga ikut menjaga kedaulatan bangsa. Dan lebih khusus lagi adalah tumbuhnya industri perangkat lunak maupun penyedia jasa media sosial yang akan berimbas ke industri lainnya.
    Karena itu ada baiknya momentum pro kontra soal blokir media sosial ini diarahkan ke diskusi produktif soal kemandiirian bangsa di jejaring sosial. Pemerintah, dalam hal ini Kemkominfo atau Bekraf, dapat melead agar perdebatan soal pro kontra yang tidak produktif bahkan cenderung memecah belah persatuan bangsa, menjadi upaya bersama bagaimana mencari solusi agar bangsa kita dapat menjadi bangsa yang mandiri, berdaulat, dan terhormat di jagat cyber.
    Kalau Korea bisa punya Line, mustahil bagi kita kalau kita tidak bisa membuat yang lebih bagus lagi. Kalau Cina bisa mandiri bahkan tidak tunduk pada penyedia jasa jejaring sosial global dengan memiliki Weibo, WeChat, Alipay, dan lain-lain maka bukan hal yang mustahil kalau kita juga bisa mandiri seperti itu.

  4. Saya juga termasuk yang tidak setuju dengan pemblokiran ini, karena kita tidak bisa menutup mata bahwa Telegram juga dipakai oleh banyak orang untuk berdakwah, dan salah satu media yang powerful untuk berdakwah dewasa ini adalah Telegram…

  5. Setujuuuuuu

    Mending fokus di pendidikan dan sosialisasi yg membuat org less radical. Namun butuh kerja keras , lama dan hasilnya tangible

    Nyatanya kita lbh suka yg instant dan gampabg dilihat sih.
    #mindset

  6. Saya yakin, ini adalah keputusan yang sulit.
    Apa boleh buat klo merugikan bangsa dan dengara, sebaiknya kita dukung
    Namun kalau “pemilik” telegram bisa diajak kerjasama mungkin tidak begini jadinya…

    Jadi ajakkan saya, marilah kita mendukung keputusan ini, karena Indonesia adalah negara kita…!!!

  7. Setuju pak. kalau mnurut saya sih kalau mau niat skalian dari pada diblockir ya langsung minta suruh banned aja grup/chanelnya kalau itu user lokal, jika yang buat orang luar ya tinggal blockir aja tidak bisa diakses chanel/grupnya lewat IP kita. Toh saya rasa walau tetap akan banyak bermunculan, tappi jika jumlah mereka lebih dari 10k user misal. Tidak akan semudah diawal mencari user barunya. Dari pada semua yang tidak mengunakan untuk kearah itu juga kena dampak.

    kalau memang orang udah punya niat jadi teroris juga mau diapain juga akan media apa aja, toh yang waras juga pasti lebih banyak. Gak usah jauh2 ke teknologi. Via sms aja bisa. Via post aja kirimin DVD/usb video bikin bom aja bisa atau yang paling gampang kirim via email aja bisa. Memang konyol sih.

    Terus kemarin saya ikut beberapa seminar, malah kalau udah gini nyalahin masyarakat dikira kita gak bangga pake produk2 sejenis buatan anak bangsa. Sempet bawa2 aplikasi sebangsa dll. Lawong promosi aplikasinya saja gak jelas, sosialisasinya saja gak jelas. Belum lagi aplikainya saja gak jelas. Dari mana orang tahu dan dari mana orang mau menggunakan. Toh apakah kalau aplikasi karya anak bangsa sejenis2 itu jadi dan besar, apakah bisa menjamin tidak akan digunakan untuk hal seperti itu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s