Potensi Aplikasi Mobile di Indonesia

Banyaknya pengguna handphone di Indonesia merupakan kesempatan untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi mobile. Namun jika kita lihat, kesempatan ini belum dimanfaatkan oleh pengembang aplikasi mobile di Indonesia. Coba kita lihat daftar aplikasi yang paling populer.

  1. Daftar aplikasi terpopuler di Indonesia dari Google Playstore
  2. Daftar aplikasi terpopuler di Indonesia dari Apple Store

Dari daftar tersebut dapat kita lihat bahwa aplikasi mobile yang populer kebanyakan (hampir semua malahan) tidak dikembangkan oleh pengembang dari Indonesia. Walah.

Jika kita teliti lebih lanjut, aplikasi-aplikasi yang populer dari pengembang Indonesia biasanya terkait dengan bisnis pemilik aplikasi tersebut. Sebagai contoh, aplikasi Tokopedia merupakan pendukung dari market place Tokopedia. Demikian pula dengan Bukalapak, Go-jek, MyTelkomsel, dan seterusnya. Tidak ada aplikasi yang berdiri sendiri sebagai aplikasi.

Hal yang menarik lainnya adalah pasar aplikasi mobile di luar negeri didominasi oleh Games. Di Indonesia, meskipun sudah banyak yang berusaha, pasar ini malah belum barhasil dikuasai.

Hasil berbincang-bincang dengan berbagai pengembang aplikasi mobile, kebanyakan mereka mengembangkan aplikasi sesuai dengan kebutuhan klien. Misal ada klien yang berupa sebuah perusahaan yang minta dibuatkan aplikasi, maka aplikasinya ya memang khas untuk perusahaan tersebut, bukan untuk umum.

Jadi bagaimana masa depan pengembang aplikasi mobile di Indonesia?

Iklan

11 pemikiran pada “Potensi Aplikasi Mobile di Indonesia

  1. Halo pak, hanya ingin tanya pendapat saja untuk motifasi saya. Menurut bapak nih, hal apa saja yg harus dilakukan untuk mendukung pengembang aplikasi asli indonesia khususnya oleh anak muda sekarang? Hal yang paling kecil yang bisa berdampak bagi banyak orang.

  2. Menurut saya potensi aplikasi mobile di indonesia akan punya masa depan yang baik kalau bisa memberikan kemajuan dalam hal kesejahteraan dan kesempatan misalnya ketersediaan informasi yang lebih merata tidak hanya menjangkau orang2 yg ada di pusat yaitu ibukota jakarta. Dari beberapa aplikasi yg sudah saya coba kebanyakan hanya memprioritaskan orang2 yg terdapat di jakarta seharusnya setiap ada aplikasi baru buatan indonesia dibuatkan juga skala prioritas atau pembagian wilayah sesuai dengan potensi yang terdapat pada wilayah atau daerah tersebut, satu hal lagi yang juga tidak kalah penting adalah peningkatan dalam hal infrastruktur tentunya hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi.

  3. Potensinya ada, sayangnya di indo, yang kritik membangun itu sedikit sekali. contoh saja aplikasi yang “agak kontroversi” seperti aplikasi poligami yang “viral” tempo hari langsung dapat rate “1” dari pengguna tanpa memakai aplikasi tersebut tanpa masukan.. langsung rate “1”.

    susah sih, pengguna aplikasi disini masih labil dan “bodoh”

  4. Kalau di Indonesia paradigma aplikasi berbeda dengan di luar negeri, utamanya Silicon Valley.

    Membangun Customer Facing Application itu sangat sulit. Butuh effort dan dana yang sangat besar dari sisi development dan marketing. Sebagian besar startup Indonesia tidak akan punya kesempatan bersaing dengan mobile app dari luar negeri yang mendapat funding sangat besar dari investor atau “startup” besar Indonesia yang sudah series lanjutan seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka dll.

    Karena itu pengembang mobile App di Indonesia untuk bertahan hidup, harus kembali ke jalan konvensional yaitu menjadi tukang jahit bagi corporate.

    Menjadi tukang jahit ini sekarang sudah tidak feasible karena persaingannya sudah semakin berat. Corporate-corporate juga sudah tidak mau membayar tinggi untuk pembuatan aplikasi.

    Persaingan bukan hanya dari dalam negeri tapi juga di luar negeri seperti India sudah banyak sekali Outsource untuk pembuatan aplikasi dan sangat murah.

    Bikin aplikasi mobile sudah seperti bisnis Desain Web pada tahun 2000an.

    Sudah saturated.

    Ditambah karakteristik customer Indonesia yang sangat demanding, banyak tuntutannya, maunya serba murah/gratis, tidak patuh pada kontrak/perjanjian dan pembayarannya sering telat.

    Margin profit sebagai pengembang aplikasi mobile ini sangat kecil.

    Kesimpulan saya adalah sebagai pebisnis IT, pengembangan aplikasi mobile sudah tidak feasible lagi kecuali bagi freelancer/mahasiswa atau untuk hobi mengisi waktu luang saja.

    Kalau untuk bayar kost dan makan bagi single masih bisa lah.

    Lebih baik fokus ke bisnis lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s