Mencari Developer Software

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara Bekraf yang diorganisir oleh Dicoding di Bandung. Acara ini mengumpulkan developer software (pengembang aplikasi) di kota Bandung dan diberikan berbagai pengetahuan (seminar, training). Berikut ini adalah contoh foto yang hadir. Banyak! Lebih dari 1000 orang!

DSC_0217_0001

Namun yang menjadi masalah adalah ketika saya mencari developer, ternyata kesulitan. Sebetulnya mereka ada dimana? Ini adalah sebuah paradoks; katanya banyak SDM yang mencari pekerjaan tetapi ada banyak perusahaan yang kesulitan mencari SDM.

Saya mendapat permintaan untuk programmer dan support (untuk berbagai jenis software baik yang sudah kadaluwarsa maupun yang masih baru). Akhir-akhir ini malahan dapat permintaan tiap minggu! Nah, apakah perlu saya tanggapi permintaan-permintaan ini dengan lebih serius? Dahulu kami memang pernah memiliki perusahaan outsourcing seperti yang dimaksudkan, tetapi sekarang para pengembangnya sudah tersebar. (Ada yang pindah ke luar kota, mengambil kuliah di luar negeri, menjadi freelancer, membuat perusahaan sendiri, atau menjadi bagian dari perusahaan kami lainnya.) Nah, perlukah kami membuat kembali perusahaan ini?

Iklan

9 pemikiran pada “Mencari Developer Software

  1. Selamat sore pak budi,

    Berdasarkan informasi dari salah satu kenalan saya yang kebetulan pernah menjadi exhibitor di acara serupa (dalam hal ini devsummit), kebanyakan yang datang ke acara seperti itu adalah mahasiswa. Para “kalong-man” (software developer) biasanya lebih memilih untuk menghabiskan weekend dengan keluarga setelah penat bekerja seminggu sebelumnya. Tapi mungkin ada juga yang suka keluyuran saat weekend untuk mengikuti acara serup, itu hanya salah satu informasi yang pernah saya dapat.

  2. Sedikit insight dari developer pak. Saya tadinya seorang sales. Kemudian banting setir menjadi project manager, manager sales dan kemudian developer, dengan mempelajari pemrograman secara otodidak selama setahun.

    Sejak banting setir, saya tidak pernah sepi dari job. Baik dari dalam maupun luar negeri.

    Saya coba beri perspektif dari (mantan) sales dan developer.

    Di Indonesia itu kebanyakan Makelar (tukang ngomong) dari pada executor (Engineer, Developer, Researcher etc). Makelar terlalu banyak jumlahnya.

    Indonesia perlu lebih banyak executor.

    Jadi iya memang jumlah suplai Developer di Indonesia kurang. Tapi kenapa ??

    Karena sekarang dunia Technology lagi booming. Mulai dari startup sampai perusahaan konvensional bertransformasi menjadi digital, tapi kebanyakan orang HANYA BISA NGOMONG tidak bisa mengeksekusi.

    Developer amatiran seperti saya saja sampai nolak2 kerjaan.

    Apalagi yang jago2, mereka pilih santai kerja di rumah sambil main sama anak atau kerja di luar negeri yang jauh lebih bagus insentifnya.

  3. Kebanyakan masih sebatas MAU jadi developer Pak. Tapi belum sampai sudah menjadi developer. Pasalnya, menjadi developer membutuhkan passion yang luar biasa.

  4. banyak faktor juga loh. Mau jadi developer tapi kalau ternyata skill dan kemampuan tak ada gimana? mungkin saja kemampuannya pas – pasan saja dan tak bisa bersaing dengan developer hebat dari luar atau setempat.

    terus belum lagi kalau ternyata mereka disadarkan oleh tembok yang wajar yaitu modal. Kemampuan sudah ada, tapi modal tak ada. Passion itu paling penting kalau mau jadi developer. but then again a lots of people can think and have so many great ideas, but eventually only those who are bold and dare to do the 1st step succeed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s