Berkomentar

Sejalan dengan makin diterimanya sistem elektronik (blog, media sosial, dan sejenisnya) dalam berdialog, berkomentar atau mengomentari komentar-komentar lainnya (apa sih ini … hi hi hi) sudah menjadi kebiasaan. Nah, sebelum menjadi kebiasaan yang buruk, mari kita belajar untuk membuatnya menjadi yang baik.

Satu hal yang sering mengganggu bagi saya adalah adanya orang yang asal berkomentar tanpa memperhatikan yang dia komentari. (Mumet?) Contohnya begini, ada sebuah dikusi tentang teori relativitas dan kemudian ada komentar dari Einstein. (Iya, Einstein sudah tiada. Ini kan hanya contoh. Contoooohhhh ya.) Setelah itu ada orang yang komentar ngasal. Yang lebih “mengerikan” (lucu?) adalah sang komentator ini kemudian menyarankan Einstein untuk belajar Fisika dulu. “Makanya, belajar Fisika dulu bro“. Pakai “bro” pula. ha ha ha. Dia tidak tahu dan TIDAK MAU MENCARI TAHU bahwa lawan bicaranya adalah Einstein.

Di zaman internet saat ini, untuk mencari tahu tentang seseorang itu sangat mudah sekali. Ada Google (dan kawan-kawannya). Klik sedikit maka kita tahu bahwa Einstein itu paham soal Fisika. Masalahnya adalah mau atau tidak maunya.

make-a-comment-like-a-boss-done

Oh ya, saya pun beberapa kali pernah di-masbro-kan seperti contoh Einstein di atas (untuk bidang yang berbeda). Ha ha ha. (Bidang apa? Ya tinggal dicari sebagaimana dicontohkan tadi.)

Inti yang ingin saya sampaikan adalah ketika kita akan memberikan komentar maka ketahui dahulu lawan bicara kita. Itu saja.

Iklan

8 pemikiran pada “Berkomentar

  1. wah, iya banget pak. soalnya di era socmed digital begini, setiap hasrat bicara mudah sekali tersalurkan. jadinya mudah sekali untuk bicara tanpa berpikir. apalagi tanpa riset.

    saya pribadi, lebih baik mendiamkan dulu barang 3 hari. sambil lihat perkembangan isunya. barangkali apa yg dulu mau saya sampaikan, tapi saya tahan, ternyata memang lebih baik tidak dikeluarkan. hehe..

  2. Sebaiknya tidak perlu diladeni Pak yang semacam itu. Di internet ini sekarang memang banyak troll yg mereka sengaja memberi komen tanpa memiliki niat untuk berdialog dengan baik. Motifnya macam-macam. Ada yang cuma gatal ngasih komen dan yang paling parah sengaja membuat kesal yang dikomentari.

  3. Iya betul yang namanya Netizen kalau komentar suka asal. Baru tahu dikit merasa sudah paling pintar, seperti gaya kucing di atas. Songong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s