Mengatur Lalu Lintas

Hari Jum’at lalu, Bandung macet luar biasa. Siangnya katanya hujan deras. Badai. Ada pohon tumbang di Jl. Riau menimpa dua mobil. Saya sendiri dari Jakarta menuju Bandung menggunakan kereta api. Sampai di Bandung, saya menggunakan taksi konvensional menuju rumah. Ternyata masih macet luar biasa. Akhirnya perjalanan dari stasiun kereta api ke rumah menghabiskan waktu 2 jam dan Rp. 100 ribu.

Waktu dua jam itu mungkin bisa bertambah lagi kalau saya tidak turun tangan mengatur lalu lintas. hi hi hi. Ceritanya begini.

Waktu di jalan Pahlawan, taksi berhenti karena jalanan benar-benar berhenti. Mesin mobil pun dimatikan. Setelah lebih dari 10 menit tidak bergerak akhirnya saya mengintip ke luar. Oh mampet di pertigaan antara jalan Pahlawan dan Cikutra. Pasti ini karena kendaraan saling tidak mau mengalah. Kayaknya saya harus turun membereskan. Tapi bagaimana dengan barang-barang saya? Ada tas saya yang berisi laptop dan handphone. Hmm… Akirnya saya putuskan untuk mengatur saja. Saya ambil handphone dan keluar. Bismillah saja. Toh taksinya juga tidak bisa kabur. Macet gini. he he he.

Maka keluarlah saya dan mulai mengatur. Ternyata di sana sudah ada satu orang yang mencoba mengatur. Polisi cepek. Tapi sendirian bakalan tidak bisa karena dari berbagai sudut ada mobil dan motor yang merangsek maju. Ada yang menahan di satu sisi (dua sisi) dan satu yang mengatur majunya. Ada mobil yang saling berhadapan pula. Kami atur. Sedikit demi sedikit jalan terurai. Ada juga motor yang kesenggol mobil jadi terguling, saya bantu angkat dan suruh bangkit. Jalan sana. Ada juga motor yang menghalangi jalan lawan arahnya. Satu persatu saya suruh minggir dan kadang saya angkat buntutnya. he he he. Ini semua sambil gerimis. Biarin sajalah. Kagok. Yang penting jalan terurai.

Ada yang kasih jempol. Seneng juga. Ada yang melotot karena gak mau diatur. Saya pelototin balik sambil saya suruh jalan.

Untung gak ada yang kenal saya. Kalau ada yang memvideo bisa-bisa jadi viral. wkwkwk.

Sebetulnya semua mau diatur. Yang menjadi masalah adalah ketika orang merasa tidak adil. Saya sudah nunggu teratur kok disodok. Maka dia mulai nyodok juga. Dan seterusnya. Maka terjadilah kemacetan. Yang memang harus dibuat adalah agak semua mendapat giliran secara adil. Bisa tertib juga. Biarlah ada satu dua orang yang gak sabaran. Yang penting yang lainnya bisa merasa keadilan ditegakkan. (Ini adalah poin yang penting bagi Anda yang memberikan pelayanan.)

Taksi sudah melewati saya. Ah saya harus ngejar taksi. Barang-barang saya di sana. Maka saya menyelesaikan tugas sebagai warga yang ikut menertibkan lalu-lintas. Kembali menikmati kemacetan sebelum sampai rumah.

Oh ya, ini bukan pertama kalinya saya terpaksa turun tangan ngatur lalu lintas. hi hi hi.

Iklan

9 pemikiran pada “Mengatur Lalu Lintas

  1. Sejak ada taksi online, sekarang malah digunakan juga istilah taksi konvensional ya pak, heu heu heu

  2. Mantap Pak Budi… 👍

    Betul sekali pak. Biasanya kalo di jalan ada beberapa kendaraan yang mau menang sendiri bahkan sampai merebut hak pengendara yang lain, bisa-bisa merembet ke yang lain. Jadi makin ruwet deh. Di situ dibutuhkan peran sang pengatur.

  3. Lampu merah di sepanjang suci itu memang selalu bikin macet, Pak. Karena lampu hijau yg bersamaan untuk 2 arah. Kalau dr arah berlawanan mau jalan lurus, tp dr arah sebaliknya mau belok memotong yg lain, mau tidak mau yg mau jalan lurus harus menunggu atau yg mau belok nunggu. Kalau mau usul perbaikan timing lampu lalu lintas kemana ya, Pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s