Menulis Secara Rutin

Dalam bimbingan (mentoring) kemarin, saya mengingatkan kembali kepada mahasiswa mentoring saya untuk menulis secara rutin. Topik yang ditulis bebas saja dan formatnyapun juga bebas. Untuk yang ingin menulis thesis, disertasi, dan sejenisnya harus dibiasakan menulis yang agak formal karena bahasa tulisan buku-buku tersebut memang harus formal. Ada penggunaan kata-kata yang tidak lazim dalam buku tersebut.

Untuk yang sedang membuat usaha – start-up – maka topik tulisannya juga berbeda. Topik tulisannya lebih singkat tetapi dapat lebih informal. Media yang digunakannyapun sekarang lebih banyak menggunakan media sosial. Bahkan media seperti instagram dan twitter tidak cocok untuk tulisan yang panjang lebar. Tulisannya harus singkat, padat, dan mudah dipahami. Bahkan kadang harus lucu. Melanggar aturan bahasapun diperkenankan.

Blog merupakan media pertengahan. Dia dapat digunakan untuk hal yang formal maupun yang informal. Tulisan di blogpun dapat lebih panjang dari media sosial lainnya.

Yang menjadi masalah dalam hal menulis secara rutin adalah keteguhan. Kemauan. Seringkali yang dipermasalahkan adalah “apa yang mau ditulis?”. Nah, kalau ini adalah masalah kreativitas. Ini dapat dilatih. Cara paling gampang adalah melakukan brainstorming dengan menuliskan topik-topik di secarik kertas. Mosok tidak bisa menuliskan tiga topik? Pasti bisalah. Setelah itu, coba cari 10 topik. (Ini belum menuliskannya tetapi baru memilih topiknya saja. Mudah kan?) Tapi, ya itu dia, mau berlatih atau tidak.

Kalau alasan tidak ada waktu, itu sih alasan klasik. Itu alasan saya! Sudah saya klaim duluan. Anda tidak boleh pakai alasan itu. [meringis]

Iklan

7 pemikiran pada “Menulis Secara Rutin

  1. Setuju, pak. Mahasiswa memang harus lebih rutin menulis. Itu sangat membantu saya ketika saya S2 di Belanda. Walaupun nulisnya di blog kadang pakai Bahasa Indonesia saja, tapi sangat membantu saya untuk melatih diri saya menuangkan ide/ hasil pemikiran kedalam tulisan.

    Selain itu, menulis (rutin) membuat saya lebih relas/ tidak mudah stress, karena ada pelampiasan, dan seringkali juga interaksi dengan pembaca melalui kolom komentar bisa jadi hiburan πŸ™‚

    Cheers, pak

  2. Sering kali tulisannya menjadi ngalor ngidul tidak karuan. Akhirnya blog atau webnya sering saya reset. Kalau berbayar ini kan buang2 duit pak. πŸ™‚

    Koding adalah cara supaya tulisan itu tidak ngalor ngidul. Dan yang memahami cuma komputer saja. Cuma ya itu masalahnya: bosan! πŸ™‚

  3. Orang-orang zaman sekarang lebih suka “Nonton Video” dibanding “Membaca” mungkin itu salah satu alasan berkurangnya orang yang mau menulis. Mahasiswa pun akan rajin menulis hanya di akhir2 waktu saja: Tugas Akhir, Skripsi dan Laporan PKL/KKN. Terpaksa? Tuntutan?

  4. Suka nulis sih, tapi setengah mateng tersimpan di draft. Saat mau dipublish keburu ilfill. Bacanya kok nggak enak lagi. Kenapa yaa??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s