Marah atau Tertawa

Ini kejadiannya kemarin. Seperti biasa, Sabtu sore saya main futsal. Kemarin pun demikian. Saya berangkat seperti biasa. Sampai di tempat futsal, saya cari-cari sepatu saya. Ternyata lupa bawa. Hadoh. Kaos bawa, sepatu tidak. Kok bisa ya?

Bagaimana saya menyikapi kejadian seperti ini? Saya bisa marah, tapi bisa juga tertawa. Pilih mana? Saya pilih tertawa saja. HA HA HA. Saya menertawakan diri sendiri. Kenapa kok sampai lupa? ha ha ha. Maka saya pun kembali pulang. Entah kenapa – mungkin karena saya tertawa – maka lalu lintas pun terasa tidak ramai. Bolak balik – ke rumah dan ke tempat futsal lagi – ternyata super lancar. Belum pernah selancar ini. Sampai tempat futsal masih sebelum waktunya main. Whoa. Alam berkolaborasi dengan saya.

Ada banyak kejadian yang serupa yang disikapi banyak orang dengan marah-marah. Biasanya marah kepada orang lain, bukan kepada diri sendiri. Kejadian yang saya alami tadi, yang saya jadikan contoh, memang sangat mudah untuk ditertawakan. Ada banyak kejadian lain yang lebih sulit situasinya. Maka untuk memilih tertawa lebih susah, tapi bisa. Tentu saja ini menurut saya.

Jadi Anda pilih marah-marah atau tertawa?

Iklan

3 pemikiran pada “Marah atau Tertawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s