Data Entry Pemilu 1999

Mumpung sedang ramai dibahas tentang “lambatnya” data masuk dari hasil Pemilu 2019 ini, saya ingin cerita pengalaman 20 tahun yang lalu. Iya, 20 tahun yang lalu ketika Pemilu 1999. Mungkin banyak yang belum lahir ya tahun segitu?

Pada tahun 1999, komputer dan internet akan digunakan sebagai bagian dari penyampaian informasi data pemilu. Perlu diingat – sekali lagi, perlu diingat – bahwa hasil pemilu yang sah adalah hasil perhitungan manual. Sampai sekarang masih demikian. Tetapi kami ingin penampilan yang cepat ini untuk menjadi kendali (control) agar penyelenggara (KPU) tetap netral dan kesalahan-kesalahan dapat dihindari / dikurangi. Pada waktu itu ada banyak partai politik dan tingkat kepercayaan satu sama lainnya juga tidak terlalu tinggi. Jadi harus ada sebuah cara agar mereka dapat memantau. Maka penggunaan teknologi informasi dalam pemilu sebagai alat bantu sangat disetujui oleh semuanya.

Salah satu sumber utama dalam kesalahan adalah kesalahan dalam memasukkan data ke sistem. Kesalahan pada data entry. Begini, jika kita memasukkan data dalam bentuk tabel ke komputer – misal ke spreadsheet – maka pekerjaan ini terlihat mudah. Iya, jika yang kita masukkan datanya sedikit. Kalau misalnya kita diminta untuk memasukkan data *SEHARIAN*, dapat dijamin pasti ada kesalahan. Maklum, yang namanya manusia pasti ada lelahnya.

Itu baru kesalahan oleh satu orang manusia. Ketika kita berbicara ribuan orang yang melakukan data entry, maka dapat dibayangkan jumlah kesalahan yang dapat terjadi.

Scale matters!

Kami mencoba mencari solusi-solusi yang dapat membantu memudahkan data entry tersebut. Salah satunya adalah dengan menggunakan scanner. Kami sempat kontak berbagai perusahaan pembuat scanner di dunia. Ya, skala dunia. Ternyata, pada waktu itu, scanner yang memiliki kecepatan tinggi (high speed) dan tingkat akurasinya tinggi harganya mahal dan tidak bisa di-deliver dalam waktu singkat. Saya lupa lagi tingkat akurasinya berapa, tetapi sebetulnya masih belum memuaskan. Ini juga terkait dengan borang (form) yang akan di-scan. Jadi solusi scanner terpaksa lewat.

Kemudian kami sempat pula mendesain borang (form) untuk memasukkan data tersebut. Form yang dibuat ditujukan untuk mengurangi dan mendeteksi kesalahan. Pinjam ide dari pencatatan keuangan. Jumlah ke kanan dan ke bawah nantinya kalau dijumlahkan harus sama. Ternyata form-nya menjadi kompleks. Kebayang kalau ini harus dikerjakan oleh para petugas di lapangan. Padahal kami sudah berusaha untuk membuatnya lebih mudah. Maksimal hanya butuh kalkulator. Tapi tetap saja ini masih kurang masuk akal. Pendekatan ini berhenti juga.

Berikutnya lagi adalah mencari orang-orang yang terampil dalam memasukkan data. Ide yang muncul adalah bagaimana jika menggunakan operator-operator yang ada di bank? Ini ide keren. Pertama, mereka sudah terbiasa menggunakan komputer dan sudah terbiasa melakukan data entry. Kedua, bank-bank sudah terhubung dengan jaringan, bukan internet tetapi SISKOHAT (sistem informasi untuk penyelenggaraan haji). Jadi tidak perlu tarik jaringan sendiri. Ingat ini 20 tahun yang lalu ketika internet masih belum tersedia dimana-mana. Handphone belum ada. ha ha ha. Bank ada dimana-mana. Ketiga, kalau pegawai bank ini nakal maka bisa ada sanksi dipecat sehingga ada kendali. (Ditambah lagi ada SOP – standard operating procedure – bahwa panitia pemilu melihat pegawai bank ini melakukan data entry). Keempat, jaringan SIKOHAT ini adalah jaringan antar bank yang bukan internet, sehingga kalau mau menyerang harus menjadi bagian dari jaringan bank ini. Jauh lebih aman daripada internet. Maka ide ini dilaksanakan.

Hasilnya, tanpa banyak orang yang mengetahui, maka data pemilu dapat diproses lebih cepat dari sebelumnya. Demikian pula, banyak orang dapat melihat, memantau, dan mengawasi. (Soal penampilan di web, ceritanya akan menyusul ya.)

Ini hanya sedikit cerita tentang data entry. Masih ada cerita-cerita lainnya, tetapi sudah kepanjangan. Nanti kapan-kapan diceritakan lagi. Semoga ini dapat memberikan pencerahan bahwa data entry itu tidak mudah. Sampai sekarang ini masih tetap menjadi masalah. Beneran.

Iklan

7 pemikiran pada “Data Entry Pemilu 1999

  1. Kalau gak salah, dulu 2004 KPU pernah menyampaikan bahwa jaringan sistem tabulasi pemilu KPU ini mempergunakan VPN dan website yang diakses masyarakat punya server sendiri yang secara periodik dilakukan sinkronisasi dari server VPN. bener seperti itu pak?

  2. Tahun 1999 saya belum bisa ikutan nyoblos. karena masih berumur 8 tahun, tapi ditahun tersebut kayanya saya sudah ikutan kampanye deh, muka dicoret coret dan naik mobil bak terbuka, kalau gak salah sih tahun 1999 apa 2004 gitu, lupa hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s