Teknik Mengajari Seseorang

Pada suatu hari Hasan dan Husein sedang berada di masjid. Mereka melihat seorang tua yang sedang berwudhu. Diperhatikan, cara berwudhunya salah. Kemudian orang tua ini melakukan shalat, tata caranya pun shalat. Eh, salaaahhh. Hasan dan Husein ingin mengajari orang tua ini, tetapi mereka masih terlalu muda. Jika mereka menegur dan mengajari, kemungkinan besar orang tua ini akan marah dan tidak mau terima. Jadi harus bagaimana?

Mereka berdua akhirnya mencari cara yang lebih baik. Mereka pura-pura bertengkar tentang tata cara wudhu dan shalat mereka di depan sang orang tua tersebut. Mereka kemudian pura-pura minta tolong kepada orang tua tersebut untuk memberitahu mereka cara wudhu (dan shalat) mana yang lebih benar. Orang tua tersebut memberi tahu tata cara wudhu dan shalat yang benar. Ah, dia teringat kembali tata caranya yang benar. Pada saat yang sama dia tidak dipermalukan.

Ini adalah salah satu teknik untuk mengajari seseorang. Ada kalanya ego seseorang terlalu besar untuk diberitahu bahwa dia salah. Jika kita langung mengatakan bahwa Anda salah, ini yang benar maka kemungkinan besar dia tidak akan terima. Dia akan merasa malu dan akan mempertahankan pendapatnya (yang salah). Akhirnya tujuan untuk mengajari yang benar menjadi tidak tercapai. Ingat, tujuannya bukanlah untuk menunjukkan bahwa kita benar. Tidak penting “kita”nya. Jangan karena kita merasa ingin dikatakan benar maka kita memaksakan diri. Tahanlah ego.

Jadi ketika saya bertanya, mungkin sebetulnya saya sedang mengajari Anda. hi hi hi.

Iklan

7 pemikiran pada “Teknik Mengajari Seseorang

  1. MasyaaAllah trik nya mangtab juga ya min. Penting banget sih memang kalau kita menegur seseorang dengan cara yang benar dan juga sopan sehingga tidak menyakiti hatinya.

  2. Mengajari seseorang memang sebaiknya di lakukan dengan cara yang sangat baik. Tapi ini semua adalah tergantung dari diri pribadi. Banyak orang yang juga mengajari teknik nya dengan cara yg salah ada juga yang sopan. Tapi lebih baik gunakan bahasa g baik dan sopan sehingga orang yang kita ajari tidak berfikira aneh terhdap kita

  3. jika sikon nya, hanya sendiri. ?
    kalo dalam kasus ini kan dia bertengkar untuk minta di ajarin.
    kalo se seorang dalam posisi sendiri gimana tuh.?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s