Menjadi Rektor?

Menyambung tulisan sebelum ini (tentang rektor asing), saat ini sedang ada pendaftaran untuk menjadi Rektor ITB. Maka mulailah kawan-kawan kasak kusuk.

Kawan: “Mas, nggak daftar jadi Rektor ITB?”
Saya: “Untuk apa? Apa untungnya buat saya.”
Kawan: “Ya ngeramein aja.”
Saya (dengan percaya dirinya): “Lah, kalau kepilih gimana?”

Ha ha ha. Bagi yang sudah kenal dengan saya mungkin sudah tahu bahwa jabatan administratif tidak menarik bagi saya. Jangankan jadi rektor, jadi menteri pun saya tidak mau. (Memangnya ada yang nawarin jadi menteri? Ada lah. Meskipun saya yakin tawaran itu tidak serius.)

Kalau mau hitung-hitungan, jabatan-jabatan tersebut tidak bermanfaat bagi saya secara pribadi. Entah itu bermanfaat bagi orang lain (orang banyak), tetapi bagi saya ini tidak ada manfaatnya. Kalau saya mau sih sudah dari dulu bisa. Cieeehhh.

Begini. Seseorang itu harus tahu impiannya. Menjadi rektor – atau menjadi menteri – bukan impian saya. Bukan cita-cita saya. Itu hanya akan menjadi distraction bagi saya.

Lantas, cita-citanya apa dong? Menjadi entrepreneur. Technopreneur. Nah.

Iklan

5 pemikiran pada “Menjadi Rektor?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s