Belajar dari biografi

Biografi. Perjalanan hidup seseorang. Wah. Ini salah satu bacaan yang paling saya sukai. Untuk mengetahui mengapa dia melakukan sesuatu, saya perlu belajar dari perjalanan hidupnya. Dan seringkali setelah mengetahui itu saya menjadi lebih apresiasi terhadap karya-karyanya.

Biografi dari orang asing selalu lebih menyenangkan karena yang diceritakan bukan hanya keberhasilannya saja, tetapi kegagalan demi kegagalan juga. Malah, seringkali porsi kegagalan ini jauh lebih banyak dari suksesnya. Mungkin kalau orang Indonesia, malu untuk menceritakan kegagalan ya?

Dahulu saya melakukan ini dengan membaca buku-buku. Sekarang sudah ada YouTube dan Netflix yang mendokumentasikan ini semua. Asyik. Waktu untuk belajarnya jauh lebih singkat, meskipun banyak detail yang dihilangkan. Jadi buku memang selalu lebih baik. Asal kita punya waktu lebih banyak saja. Tapi memang menonton video jauh lebih mudah. Sayangnya video-video masih jarang tersedia secara gratisan. Saya terpaksa menontonnya di Netflix yang berbayar. Itu salah satu alasan saya berlangganan Netflix. Sayang sekali, saat ini Netflix difilter oleh ISP Indihome.

Biografi yang baru-baru ini saya lihat antara lain:

  • Annie Leibovitz: fotografer terkenal. Awalnya dia terkenal sebagai fotografer dari Rolling Stones (band dan majalah). Foto-fotonya banyak yang menjadi legendaris.
  • Dolly Parton: penyanyi country legendaris dengan suara yang khas dan potongan rambut (wig) yang khas juga.
  • Quncy Jones: produser legendaris. Saya baru sadar bahwa dia termasuk generasi “lawas”, yaitu generasi masa Miles Davis, Frank Sinatra, dan seterusnya. Perkenalan saya sebetulnya melalui album-album yang lebih “baru”, seperti albumnya Michael Jackson. Etika kerjanya luar biasa. Saya yang super sibuk saja mungkin tidak sanggup mengalahkan kekuatan fisiknya.

Biografi siapa lagi yang pantas untuk ditonton?

4 pemikiran pada “Belajar dari biografi

  1. Kalau saya tetap lebih suka membaca buku dibanding menonton. karena bila menonton bagi saya harus dituntaskan saat itu juga. Dan itu merepotkan bila kita sibuk. Bila durasi tontonannya 1 jam maka 1 jam itu harus tuntas, tidak bisa dijeda. Saya belum tau, mungkin ada cara yang asyik untuk menjeda tontonan.
    Kalau buku menjedanya lebih mudah, tinggal lipat halaman terakhir yang dibaca hehe. Jadi saya biasanya kalau baca buku yang tebal dicicil tiap malam 1 halaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s