Permasalahan Sekolah dari Rumah

Dalam rangka mengurangi penyebaran virus corona, jaga jarak atau social distancing dilakukan. Maka sekolah-sekolah dilakukan secara daring (online). Sekolah dilakukan dari rumah dengan menggunakan internet atau mekanisme lainnya (radio, tv dan seterusnya), meskipun internet merupakan hal yang utama.

Ada beberapa masalah dengan sekolah dari rumah ini. Masalah tersebut dapat kita bagi dua; (1) akses terhadap materi, dan (2) ketersediaan materi pelajaran.

AKSES

Masalah akses, khususnya akses internet, di Indonesia ini masih riil. Digital divide adalah masalah yang nyata. Sebagai negara yang memiliki ukuran fisik besar, ini bukan masalah yang mudah. Masih ada banyak daerah yang tidak memiliki akses kepada telekomunikasi, apa lagi internet. Jadi masalah utamanya adalah ketersediaan: ada atau tidak ada akses.

To do: perbanyak akses internet di berbagai tempat. Bagaimana dengan program USO dahulu?

Masalah kedua adalah harga. Harga akses ke internet saat ini sebetulnya sudah dapat dikatakan terjangkau jika digunakan untuk keperluan yang “biasa-biasa” saja dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Masalahnya, yang kita hadapi saat ini bukan masalah “biasa” saja. Akses yang dibutuhkan saat ini malah langsung ke kualitas video (kelas, perkuliahan). Jadi kita melewati teks, langsung ke video. Artinya kuota yang dibutuhkan langsung besar.

Bayangkan satu keluarga dengan dua orang anak. Maka dibutuhkan akses internet untuk 3 atau 4 orang (dua orang anak dan orang tua). Ini akses internet dengan kuota yang besar. Untuk akses teks atau media sosial biasa tidak terlalu masalah, ini untuk akses video.

To do: akses internet murah untuk pembelajaran.

Saat ini mulai ada inisiatif dari provider yang memulai dengan memberikan harga murah untuk akses kepada situs-situs pembelajaran tertentu. Contoh adalah produk dari Telkomsel ini, “Merdeka Belajar Jarak Jauh dengan Kuota Belajar Rp10!“. (Update: dapat kabar dari kawan bahwa produk Telkomsel ini tidak bisa diulang karena ada yang abuse untuk beli ratusan GB.)

MATERI PEMBELAJARAN

Jika masalah akses sudah susah, maka masalah ketersediaan materi pembelajaran juga tidak kalah susahnya. Saat ini belum banyak tersedia materi pembelajaran dalam bentuk elektronik yang dapat diakses secara daring.

Sudah ada banyak upaya untuk membuat materi pembelajaran dalam bentuk elektronik, tetapi masih belum mencukupi dan masih menggunakan kaidah lama. Artinya kita baru sebatas melakukan pemindaian (scanning) materi lama ke dalam bentuk elektronik. Hal ini belum mengantisipasi bahwa ada banyak teknologi lain yang dapat digunakan untuk pendidikan. Ini seperti membuat mobil dengan mengacu kepada delman. Atau membuat komputer dengan mengacu kepada mesin ketik. Tidak akan terbayang bahwa komputer dapat melakukan pertukaran data melalui mekanisme file sharing. Mesin tik tidak memberikan bayangan file sharing.

Perlu dimengerti bahwa kita tiba-tiba dihadapkan kepada masalah ini karena adanya virus corona yang memaksa kita untuk melakukan transformasi digital dengan segera. Dari dahulu kita mencoba melakukannya tetapi karena tidak terpaksa, langkahnya lambat. Sekarang terpaksa. Namun perlu dipahami bahwa membuat materi pembelajaran ini tidak mudah dan membutuhkan waktu.

Kita mulai dari pemindaian (scanning) materi. Kemudian dilakukan dengan menulis ulang materi tersebut ke dalam dokumen presentasi dan dokumen word processing. Ini sudah merupakan peningkatan, tetapi menurut saya ini masih memiliki masalah. (Lihat tulisan saya, “Membaca Buku atau Menonton Video“.) Menurut saya, perlu dikembangkan materi dalam bentuk video karena siswa sekarang cenderung untuk lebih menyukai pelajaran dalam bentuk visual (dan audio). Tentu saja membuat materi pendidikan dalam bentuk seperti ini menjadi lebih sulit, lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan membutuhkan sumber daya komputasi yang lebih banyak.

To do: membuat materi pelajaran dalam bentuk video. Perlu pendanaan yang besar untuk ini. Pengembangan materi ini juga perlu kajian lagi karena kebanyakan materi yang ada tidak menarik sehingga pembelajaran kurang optimal. Perlu story tellers. (Ini akan menjadi pembahasan terpisah.)

PENUTUP

Sebetulnya masih ada banyak hal yang perlu didiskusikan, akan tetapi tulisan ini sudah terlalu “panjang” (untuk ukuran kekinian). Akan saya buatkan tulisan untuk bahasan lainnya. Untuk sementara ini mari kita diskusikan tentang hal-hal yang sudah saya ungkapkan di atas. Beri komentar atau masukan Anda.

Update: Bagian kedua dari tulisan ini (tentang perangkat) ada pada tautan ini:
https://rahard.wordpress.com/2020/08/29/permasalahan-sekolah-dari-rumah-2/

7 pemikiran pada “Permasalahan Sekolah dari Rumah

  1. Buat saya pribadi, materi pembelajaran yang disajikan melalui video bukan hanya memerlukan pendanaan, Pak. Beberapa hal ini juga perlu menjadi perhatian: waktu untuk mempersiapkan material (mungkin berkaitan dengan storytelling), perlengkapan shooting dan selanjutnya juga pengeditan. Itu juga kadang menjadi kendala sih. Yang dilakukan sejauh ini mungkin tetap mengusahakan adanya video semacam talking head ataupun voice over.

  2. ini juga membutuhkan pemikiran. kemarin kawan-kawan sedang memikirkan bagaimana untuk mengajarkan lab elektronika. apakah dengan simulator saja? tapi rasanya beda kalau menggunakan alat sesungguhnya (yang mahal, misalkan oscilloscope dan waveform/tone generator).

  3. Paling realistis saat ini mungkin guru/dosen mempresentasikan materinya (seakan-akan sedang bicara dengan siswa/mahasiswanya) dengan direkam audio video, yang kemudian diunggah ke YouTube, pak.

    Namun ini baru dari sisi penyampaian materi saja. Untuk penugasa, pengerjaan tes/ujian, membutuhkan teknik yang berbeda lagi. Bahkan dengan teknologi yang berbeda pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s