Mewawancara Kursi Kosong

Belakangan ini ramai dibicarakan soal wawancara Najwa dengan kursi kosong. Wah, saya tidak terlalu minat untuk urusan sensasi, tapi ini kemudian memicu saya untuk punya ide. Bagaimana kalau saya mewawancara diri saya sendiri? Hi hi hi. (Plot twist?)

Langsung saya mengumpulkan ide dan kemudian membuat video ini. Nah, saya sebetulnya ingin cerita bahasannya, tapi kok malah jadi spoiler ya? Tapi kan sebetulnya blog ini ditujukan untuk orang-orang yang lebih suka membaca. Semestinya tidak terlalu masalah. Tapi just in case saja. Untuk yang mau lihat videonya, jangan dibaca dulu tulisan di bawah ini. Tonton dulu videonya.

[baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan spoilernya untuk yang mau nonton videonya dulu]

… [baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan spoilernya untuk yang mau nonton videonya dulu] …

… [baris kosong supaya tidak terlalu terlihat tulisan soilernya untuk yang mau nonton videonya dulu] …

Nah. Sekarang baru akan saya bahas secara singkat tentang poin-poin yang ingin saya sampaikan di video itu.

Pekerjaan rumah (PR) dari wartawan. Banyak wartawan yang tidak mengerjakan PR-nya ketika akan mewawancara. Saya sering diwawancara. Sering banget! Banyak wartawan yang dia hanya menjalankan tugas yang diberikan secara ngasal. Asal diselesaikan saja checklist itu. Sebagai contoh, ketika mewawancara seseorang ya di-google dulu lah orang yang bersangkutan. Kalau sekarang kan gampang. Kalau dahulu gimana coba? Harus ke perpustakaan, tanya sana sini, dan seterusnya.

Untuk kasus saya, ya wartawannya setidaknya tahu latar belakangnya lah. Saya bekerja dimana (dosen ITB, misalnya) dan bidang keahlian saya apa (information security salah satunya). Beberapa kali kejadian ada wartawan yang tidak tahu siapa saya kemudian main wawancara saja. Kalau mau iseng, saya jawab dengan ngawur juga. ha ha ha. Ini menyambung kepada poin berikutnya.

Bertanya pada pakarnya. Jika Anda ingin mewawancara saya, ya tanyakan tentang hal-hal yang saya kompeten untuk menjawabnya. Kalau tanya apa saja ke saya, ya jawabannya juga apa saja. Sekarang ini banyak wartawan yang ngasal dalam mencari narasumbernya. Mereka asal ambil orang dan kemudian pendapatnya dianggap sebagai valid. Bahkan ada yang langsung memberi label “pakar”, atau “pengamat”. Matinya kepakaran!

Mencari sensasi. Banyak orang yang sekarang mencari sensasi untuk meningkatkan popularitas. Apa saja ditempuh. Termasuk yang tidak etis sekalipun. Tentu saja orang tahu mana yang mencari sensasi dan mana yang mencari kebenaran atau berkarya. (Sayangnya hal yang sensasi lebih banyak ditonton karena dianggap sebagai hiburan. Dari pada nonton video binatang yang lucu, lebih baik nonton sensasi itu dan kemudian ikut memberi komentar pula!) Marilah kita hargai yang berkarya sungguhan.

Menurut saya, hal-hal yang salah harus ditegur. Diluruskan. Kita kan ingin sama-sama meningkatkan kebudayaan kita. Meningkatkan intelektual kita juga. Tetapi tegurlah dengan santun. Semoga video saya tersebut dapat memberi pencerahan.

5 pemikiran pada “Mewawancara Kursi Kosong

  1. Mending wawancara lewat media online tapi jangan pakai z**m pakai jitsi meet πŸ˜‰
    Tapi bapak sampaikan dulu jawaban sejelas-jelasnya. Baru ntar pertanyaannya dibuat.
    Ntar keliatan deh mana yang paham narasumber yang dihadapi.
    Kayaknya topik menarik “pembelajaran online” masih cukup relevan, setidaknya harapan orang tua agar COVID-19 tidak sampai menurunkan derajat pengetahuan.

  2. keren videonya, membuat kita semua menjadi introspeksi diri untuk tdk asl mencari sensasi dan mernung akan matinya kepakaran. Mantul pak Budi Raharjo alias BR hahaha

  3. Cuma mau bilang terima kasih sudah β€œrela” bikin postingan video dan blog bersamaan.

    Bikin postingan blog ataupun video itu effort nya cukup banyak, apalagi keduanya sekalian.

    Saya sebagai tim pembaca postingan, sangat mengapresiasi πŸ™‚

  4. Semacam clark kent mewawancarai superman? Pake ganti kostum dulu soalnya… πŸ˜€

    Pemilihan narasumber sekarang seringkali memang bukan berdasar kepakaran, tapi jumlah follower…
    Dan orang-orang juga cenderung tidak terlalu berhasrat untuk tahu secara mendalam duduk permasalahan, tapi cuma pengen tahu saja si itu komentarnya gimana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s