The Legacy of Erik

Beberapa bulan lalu datang seekor kucing kecil ke rumah kami. Waktunya seingat saya adalah di awal COVID-19 dinyatakan positif di Indonesia. Di belakang rumah kami ada kantor yang pegawainya makan siang di kantor. Jadi sering ada kucing liar yang hadir ketika makan siang. Mereka menunggu sisa-sisa makanan dari para pekerja ini. Sejak COVID-19, maka para pekerja bekerja di rumah – Work from Home (WfH). Jadinya tidak ada makanan sisa. Kucing liar pun tidak ada. Nah, ini justru ada kucing yang datang.

Kucing ini masih kecil. Saya tidak bisa memperkirakan usianya karena belum pernah punya kucing sebelumnya. Mungkin 6 bulan begitu? Bagaimana kucing ini sampai di rumah kami? Itu yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan. Kucing ini berharap dari makanan sisa yang tidak ada. Pertama tentu saja kami usir karena kucing liar yang sudah-sudah sering membuat kekacauan; buang air sembarangan (bau), dan kalau berantem di atas genteng kadang membuat masalah dengan adanya genteng yang lepas – selain berisiknya tentunya. Diusir-usir ini kucing ini paling hanya lari tapi kemudian ada lagi. Bahkan malamnya kelihatannya dia tidur di rak di luar yang biasanya digunakan untuk menyimpan boks dan alat-alat lainnya. Soal makanan ternyata dia juga berburu makanan sisa yang kebetulan ada. Nampaknya ada yang memberi makanan. Kucing ini tampaknya cerdas juga. Suatu saat saya memergoki dia mau loncat ke jendela dapur. Tinggi juga itu jendelanya, tapi saya tahu dia bisa. Lama kelamaan kucing ini diberi makanan sisa juga.

Kucing ini kami beri nama Erik. Alasannya dahulu pernah ada kucing juga di sini yang diberi nama Erik. Keren sekali nama kucingnya. Jadi ini kami beri nama yang sama, Erik. Belakangan baru kami tahu bahwa kucing ini adalah betina. Ada yang mengusulkan namanya diganti menjadi Erika saja, tetapi kami tetap menggunakan nama Erik saja.

Erik kemudian tidur di atas sandal yang ada di belakang. Nampaknya untuk menghindari dinginnya lantai. Jadi kami beri keset dan boks dari kardus bekas yang ukurannya kecil, cukup untuk kucing itu masuk ke boks kardus itu. Maka mulailah dia tidur di situ (dan tempat-tempat lain yang tidak saya ketahui). Setiap pagi dia akan hadir di pintu belakang rumah dan mengeong. Tandanya minta makan. Jadinya kami berikan makanan di belakang rumah. Tapi Erik ini masih kucing liar yang masih ngeri juga untuk saya pegang. Takut dicakar. Maklum ini kucing yang tidak jelas asalnya.

Oh ya, saya pernah dicakar kucing yang masuk ke rumah. Ceritanya ada kucing masuk ke rumah, saya hadang, terus dia mencakar kaki saya. Baret-baret dan berdarah. Sorenya saya ke dokter untuk jaga-jaga. Takut rabies saja. Tadi lukanya langsung saya betadine, tapi ternyata seharusnya lukanya tadi dibersihkan (dicuci) pakai detergen saja misalnya. Jadi di dokter dibeset lagi luka yang mulai mengering itu. Dibersihkan lagi. Hadoh. Pengalaman juga.

Kembali ke Erik. Ternyata Erik ini juga kucing yang tahu berterima kasih. Biasanya dia menggosok-gosokkan badanya ke kaki kita. Tapi tetap saja dia tidak mau dipegang (di-pet). Kalau tangan kita menjulur, kakinya juga mau mencakar. Jadinya interaksinya sebatas dia mendekat ke kita terus menempelkan badanya ke kaki kita untuk menyatakan terima kasih mungkin. Jadilah Erik penghuni di belakang rumah. Unofficial.

Ada alasan lain untuk memperbolehkan Erik tinggal di belakang rumah. Kalau kucing lain buang air sembarangan, si Erik ini ternyata kalau mau buang ari ke taman di depan dan mencari tanah. Kemudian setelah buang air, bekas buang airnya ditutup. Jadi tidak jorok dan tidak bau. Smart cat.

Kalau diperhatikan, si Erik ini tambah gendut. Jangan-jangan karena kebanyakan makanan yang kami berikan. Tapi, kayaknya gemuknya seperti yang hamil. Eh, ini kan kucing kecil. Lama kelamaan memang Erik ini hamil. Memang Erik ini kucingnya kecil. Beberapa waktu (bulan) kemudian memang terlihat dia sibuk mencari tempat. Saya simpan sebuah boks kecil di sebelah lemari di belakang. Dan betul saja. Tidak berapa lama kemudian – tidak sampai 30 menit kemudian – dia melahirkan di sana. Whoah.

Ada berapa anak Erik? Susah melihatnya karena itu di dalam boks dan kami tidak ingin mengacaukan. Kata orang kalau anak kucing sampai terpegang oleh manusia, maka ibunya tidak mau mengurusi lagi. Tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi kami tidak berani mengambil risiko. Jadi kami tidak berani. Intip mengintip, akhirnya kami tahu anaknya ada enam. Hah??? Kucing kecil begini anaknya ada enam? Kok bisa banyak? Kata orang memang kucing anaknya banyak tetapi nanti yang bertahan tinggal satu dua. Oh begitu? Satu hari kemudian memang ada satu anak kucingnya yang mati. Dikeluarkan oleh Erik dari boksnya. Jadi kami ambil kemudian dikuburkan di ladang di belakang rumah. Kebetulan ada tanah yang masih banyak pohon-pohonan, semacam hutan kecil, di belakang rumah.

Masalah mulai terjadi dua minggu setelah Erik melahirkan. Tiba-tiba Erik ditemukan mati di halaman di depan rumah. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Pagi masih seperti biasa. Pas dicari-cari tidak ada, ternyata dia sudah mati. Belum tahu kenapa, tetapi dugaan saya dia ketabrak kendaraan dan masih bisa lari ke rumah. Hanya sampai di halaman. Tidak ada tanda-tanda yang aneh. Tidak ada busa di mulutnya, misalnya. Jadi bukan diracun. Jadi tiba-tiba saja. Hadoh. Maka siang sore itu kami kuburkan Erik di belakang rumah.

Bagaimana dengan anak-anak Erik? Maka kami harus langsung mengambil alih. Hadoh. Padahal kami tidak punya pengalaman ngurusi kucing. Mana ini masih anak-anak kucing yang usianya dua minggu. Tidak ada peralatan. Tidak tahu harus makannya apa. Tanya sana sini. Akhirnya ada kawan yang memberikan susu dan botol untuk menyusui anak-anak kucing itu. Langsung pesan susu anak kucing online dan seterusnya. Maka dimulailah perjalanan mengurusi anak-anak kucing itu. Ini baru pertama kalinya kami memegang anak-anak kucing itu. Kebayang kan? Anak-anak kucing itu kami beri nama: Erik (karena persis ibunya jadi diberi nama yang sama), Kuro (karena hitam), Panda (karena belang putih hitam seperti panda), Totoro (lupa kenapa), dan Cimot (karena paling kecil ukurannya). Kami sadar bahwa akan sangat sulit mengurusi mereka. Secara statistik katanya hanya tinggal satu atau dua. Hadoh.

Anak-anak kucing ini akhirnya mau minum susu. Kami akhirnya tahu caranya. Tapi repot luar biasa. Ada lima anak kucing yang harus diberi minum susu dari botol bersamaan. Kemudian mereka malah agresif. Begitu melihat botol susu langsung mereka jadi agresif seperti gremlins. Ha ha ha. Ganas. Bahkan sampai berusaha naik ke badan kita, yang artinya mencakar-cakar. Kaki dan tangan kami akhirnya menjadi goras gores kena cakaran mereka. Yang penting mereka sehat-sehat.

Tiba-tiba terjadi masalah. Panda sore masih makan dengan lahap. Malamnya tidak berniat makan dan terlihat lemas. Hadoh bagaimana nih. Kami tidak tahu bagaimana bersikap. Akhirnya mencari tahu apakah ada dokter hewan (vet) dekat-dekat sini. Ternyata ada di Surapati Core. Oke kalau begitu kami rencanakan besok pagi dibawa ke sana. Ternyata pagi-pagi habis Subuh, kami dapati Panda sudah lemas. Kembang kempis. Langsung segera kami bawa ke dokter hewan itu. Tempatnya tidak jauh dari rumah kami. Mungkin 10 sampai dengan 15 menit sampai. Sampai di sana, Panda sudah tidak tertolong. Kami langsung pulang dan pagi itu menguburkan Panda di samping Erik senior.

Beberapa hari kemudian (lupa tepatnya), Cimot juga lemas. Kali ini kami bawa ke dokter hewan. Sampai di sana dia makin lemas. Jadinya dia harus diinapkan. Oke Cimot nginap di sana. Ternyata besoknya juga sudah tidak tertolong. Maka kami bawa pulang dan kami kuburkan di sebelah Erik dan Panda.

Beberapa hari kemudian Erik yang terlihat lemas. Kali ini kami ambil inisiatif membawa semua, tiga kucing yang tersisa. Dicurigai terkena virus. Dan betul saja, Erik yang dites kena virus ternyata positif virus Distamper. Ternyata ini virus yang lethal. Masalahnya anak-anak kucing ini masih terlalu kecil untuk divaksin. Jadi terkena. Jadi bertiga itu diinapkan semua di sana. Bersoknya, Erik tidak tertolong. Jadi kami bawa pulang Erik dan lagi-lagi kami kuburkan dekat saudara-saudaranya. Kuro dan Totoro tetap menginap. Kuro terlihat lemas tetapi Totoro terlihat sehat.

Lupa saya berapa hari Kuro dan Totoro diinapkan di sana. Dua atau tiga malam? Berikutnya ada kabar bahwa Totoro bisa dibawa pulang tetapi Kuro belum. Maka kami bawa Totoro pulang. Dia terlihat sehat meskipun agak kurus. Maka di rumah ada satu anak kucing. Ini yang masih harus diurus karena dia masih dalam pemulihan.

Dua hari kemudian Totoro boleh pulang. Alhamdulillah. Badannya kurus sekali pas pulang. Masih belum fit betul. Jadinya kami punya dua anak kucing yang harus diurusi secara terpisah. Dua hari di rumah, Kuro menjadi semakin sehat. Makan dan minumnya bersemangat sekali. Totoro juga bersemangat. Tapi, terjadi masalah lagi. Saking semangatnya Kuro minum susu di pagi hari maka sedotan botol dia gigit dan sedotannya itu dia telah. Hadoh. Ini plastik. Cukup besar juga. Hadoh bagaimana? Maka lagi-lagi dia harus dibawa ke dokter hewan.

Sampai di sana, Kuro di x-ray. Hasilnya menunjukkan memang ada benda itu di lambungnya. Ukurannya cukup besar. Jadi masih ada risiko dia dapat memblokir saluran dari lambung ke usus. Tapi boleh jadi dia masih bisa keluar juga. Sebetulnya ada solusi operasi, tetapi karena Kuro ini masih kecil, kurus (karena baru sembuh dari sakit), maka opsi operasi sangat berisiko. Jadi diberi obat pencerhaan (pencahar?) dan diberi waktu sampai besok paginya untuk melihat lokasi benda itu.

Besoknya Kuro kami bawa ke sana lagi. Kali ini harus menunggu sampai jam 11 untuk x-ray, dokter, dll. Kondisi Kuro pagi masih oke, tetapi begitu sampai di vet mulai drop. Jadi Kuro terpaksa ditinggal di sana. Hari berikutnya ternyata kondisinya masih buruk sehingga belum bisa dilakukan operasi. Sorenya, Kuro juga tidak tertolong lagi. Belum tahu apakah masih karena virusnya itu atau karena apa. Kami bawa Kuro ke rumah dan kami kuburkan (lagi-lagi) di sebelah saudara-saudaranya.

Tinggal Totoro yang tersisa. Kemarin dia masih oke. Tapi pagi ini tiba-tiba dia lemas dan tidak dapat bergerak. Hadoh. Kami sudah pasrah. Kali ini kami coba urus sendiri dulu di rumah. Kami paksa untuk minum susu (karena tidak mau makan). Tulisan ini saya buat sambil mengawasi Totoro di samping saya. Masih berjuang. Berdoa.

Update: setelah 3 malam menginap di dokter hewan (vet), akhirnya Totoro tidak terselamatkan. Dari 0 kucing, ke 6 kucing, dan kembali ke 0 lagi.

3 pemikiran pada “The Legacy of Erik

  1. Pak Budi, apakah tempat makan dan mainnya sudah dibersihkan? Virus penyebab distemper bisa bertahan 6 bulan… kemarin kucing saya juga kena, meninggal 3… pas kedokter dinasehati untuk membersihkan tempat makan dengan sabun plus cairan disinfektan.
    Semoga segera sehat Totoronya

  2. sudah telat. semuanya sudah tiada. mereka semuanya berasal dari 1 induk dan berlima masih kecil2 (ditinggal induknya waktu berumur 2 minggu). jadi mereka mungkin sudah kena sejak kecil (dari induknya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s