Kasus Eiger

Kemarin ramai timeline media sosial terkait dengan Eiger. Apa ceritanya? Berikut ini saya coba koleksi apa yang saya dapatkan dari internet.

Kasus diangkat oleh Dian Widiyanarko yang mendapat surat teguran dari bagian hukum (legal) Eiger. Ini dapat dilihat dari twitter-nya (di sini). (Catatan: surat memang bertanggal 2020 tetapi baru diterima oleh Dian Wiiyanarko baru-baru saja. Ada konfirmasi dari Dian di twitternya.)

Pada intinya surat mengatakan keberatan atas review yang dilakukan oleh Dian atas produk Eiger. Masalahnya Dian tidak dibayar (tidak diendorse) oleh Eiger. Dia melakukan review secara suka rela. Maka Dian keberatan diatur-atur oleh pihak Eiger.

Ternyata tidak hanya Dian yang dikirimi surat dari pihak legal Eiger ini. Ini ada beberapa contoh lainnya.

Sebelumnya banyak orang yang bertanya-tanya siapa “Hendra” ini karena ada komentar-komentar dari yang bersangkutan pada video-video unggahan para youtubers. Komentar tersebut terkesan menggurui dan mengatur-atur cara para youtubers dalam membahas produk-produk Eiger. (Foto-foto menyusul.)

Kasus ini dimanfaatkan oleh kompetitor untuk melakukan marketing. Berikut ini beberapa contohnya. Selain kompetitor yang jelas-jelas bergerak di bidang yang sama (mirip), momen ini dimanfaatkan juga oleh pelaku bisnis di bidang lain. (Contoh ada dari Durex. Foto tidak disertakan.)

Komentar-komentar miring dan lucu-lucu pun akhirnya bermunculan di media sosial. (Tidak saya tampilkan di sini, karena nantinya jadi panjang dan out of topic. Semestinya ada yang mengumpulkan komentar / meme yang lucu-lucu tersebut.)

Akhirnya pimpinan dari Eiger harus turun tangan dan mengirimkan surat berikut.

(Jika Anda menemukan data lain, mohon diberitahukan.)

Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kasus ini? Bad Public Relation? Atau apa?

Jika Anda memiliki sebuah produk atau layanan dan kemudian direview oleh pihak lain, maka apa yang akan Anda lakukan? Cuek? Ngomel (ngedumel)? Tegur? Nyolot? Ajak kerjasama? Lain-lain?

Dari kacamata saya, seharusnya pihak Eiger lebih bijak dalam melihat review-review yang dilakukan oleh pembeli. Jika memang tampilan review kurang baik, misalnya kameranya kurang bagus, mungkin bisa dimodali? hi hi hi.

Tautan terkait

3 pemikiran pada “Kasus Eiger

  1. Antara blunder atau bisa jadi juga strategi marketing. Baca2 dari komentarnya, karena trending justru banyak sebelumnya yang tidak tahu merk eiger jadi mengetahui.

  2. Brand image itu dibentuk bertahun-tahun dan dengan usaha yang luar biasa. Jika ini merupakan strategi marketing, maka ini strategi yang terlalu berisiko. Contoh, orang jadi mengetahui pesaing-pesaing Eiger. (Saya sendiri tadinya tidak tahu brand lain selain Eiger. Sekarang jadi tahu ada brand-brand lain.)

  3. Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kasus ini?

    Jawab: ketika kompetitor melakukan blunder, itu adalah saat yang tepat untuk promosi gratis. #ehmaap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s