Susahnya Jadi Dosen

Banyak orang yang merasa bisa menjadi dosen atau guru. Biasanya ini terjadi kepada seseorang yang baru saja memberikan presentasi di seminar. Wah, menarik nih menjadi pengajar. Maka kemudian dia menyatakan diri ingin menjadi dosen. Tidak semudah itu, Ferguso. Masalahnya adalah orang ini hanya memberikan presentasi satu atau dua jam. Dia belum merasakan susahnya jadi dosen. Lah, memang masalahnya apa?

Pertama, menjadi dosen itu membutuhkan sebuah rutinitas. Sekali mengajar dengan mengajar 14 atau 15 kali secara rutin merupakan hal yang berbeda. Satu dua kali masih oke. Selanjutnya, maka mulailah muncul kebosanan. Nampaknya ini sama dengan ngeblog ya? Ha ha ha. Itulah sebabnya banyak blogger yang sudah tidak aktif lagi sekarang. Kembali kepada topik, rutinitas ini atau kebosanan ini yang menjadi masalah.

Kedua, memeriksa tugas atau ujian. Nah ini yang paling menyebalkan dari kegiatan dosen. Menyiapkan materi itu merupakan pekerjaan yang kelihatannya susah, tetapi itu susah yang menyenangkan. Yang susah (mungkin susah) tapi menyebalkan itu adalah memeriksa tugas atau ujian mahasiswa. Bayangkan kalau Anda memeriksa tugas yang sama untuk 50 siswa, misalnya. Membosankan. Dan jangan lupa, ini semua membutuhkan waktu. Memeriksa tugas mahasiswa itu membutuhkan waktu. Sebagai contoh, saya membuat tulisan ini sebagai selingan dari memeriksa tugas mahasiswa. Saya sudah memulai memeriksa tugas mahasiswa mulai pukul 9 pagi tadi dan sekarang pukul 10:11. Kalau saya perhatikan yang saya periksa baru seperempatnya. Padahal ini tugas yang mudah. Ada masalah teknis, yaitu saya harus me-rename nama berkas yang mereka kirimkan. Ini kesalahan saya. Seharusnya saya buatkan standar penamaan berkas (“NIM.pdf”, misalnya) sehingga berkas sudah terurut. Baiklah.

Kembali ke memeriksa tugas mahasiswa. Nampaknya ini bakalan sampai makan siang.

Demikian sedikit cerita dari balik layar tentang dukanya jadi dosen. Masih mau jadi dosen?

5 pemikiran pada “Susahnya Jadi Dosen

  1. Wah, bener banget sih poin keduanya, Pak. Saya sudah minta untuk standarkan format nama dan file-nya saja kadang masih ada yang tidak mengikuti. Bikin pusing.

  2. Baru juga satu jam pak. Lebih bosan mana dengan koding. Ada sebab kenapa orang pintar tidak mau koding tapi malah pilih jadi dosen. Bosan. Koding itu awalnya saja yang menyenangkan. Senang karena ingin tahu. Senang karena merasa pandai. Lama kelamaan itu menjadi hal yang membosankan. 🙂

  3. Jadi dosen adalah bagian dari rencana saya semasa kuliah di UPI.. di bbrp semester akhir sudah pernah merasakan jadi asdos.. setelah lulus, siap untuk ikut berkarya merintis jadi dosen.. tapi sayang di tahun yang sama persyaratan minimal untuk dosen adalah S2.. dan seketika buyar rencana, tertunda.. sampai akhirnya terlalu enjoy dengan dunia kerja di perusahaan swasta… sampai sekarang……
    impian ini belum sepenuhnya pupus..apalagi kalau ada kesempatan.. ya minimal jadi dosen tamu di kampus swasta.. harusnya bisa ya…mudah2an…

  4. mungkin bisa diambil alih tugas memeriksa tugas mahasiswa pakai mechine learning

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s