Menjadi Outsider

Dari dulu saya merasa bahwa diri saya adalah seorang outsider. Maksudnya bagaimana sih? Mungkin definisi dari outsider itu harus diperjelas dulu ya? Langsung dari cerita saja ya. Mulainya entah sejak kapan. Saya ambil contoh random saja ya.

Ketika SMP atau SMA biasanya orang memiliki kelompok group. Saya kok merasa tidak punya ya. Hanya di SMA saja saya ada kelompok yang isinya hanya berempat orang saja. Selain itu tidak ada. Contohnya begini. Misalnya saya bisa main musik, tetapi di SMA saya tidak pernah ikut kelompok musik. Padahal untuk ukuran SMA mungkin kemampuan gitar saya oke lah. Eh, malah sekalinya diajak main musik ya malah menabuh drum di festival. Selain itu saya tidak pernah diajakin kelompok musik. Solusi saya, ya buat group musik sendiri. ha ha ha. Seingat saya ada beberapa kelompok amatiran yang saya ikuti, mulai dari musik eksperimen (splicing tape, slowing it down, dll.) sampai ke yang Beatles-an.

Main sepak bola juga sama. Saya tidak pernah diajakin ikut klub sepak bola. Yang ini saya tidak buat klub sepak bola sendiri, karena repotnya luar biasa. ha ha ha. (Kalau sekarang, futsal.)

Dari segi kelompok yang berasal dari strata ekonomi, juga tetap outsider. Tidak masuk ke group orang kaya. Tidak masuk group orang miskin. Tidak masuk group orang tengah. Mungkin kawan-kawan bingung, saya harusnya masuk ke kelompok mana. Walhasil, saya tidak termasuk kelompok mana-mana. Bagi semua group, saya adalah outsider.

Waktu menjadi mahasiswa juga sama saja. Di kampus juga ada kelompok band, tetapi lagi-lagi saya juga tidak diajakin. Ya buat band sendiri. Ya tetap juga tidak diajakin. Ya sudah, buat acara sendiri saja. Ha ha ha. Olah raga, politik, keilmuan, semuanya juga sama. Saya tetap jadi outsider.

Sampai sekarang kejadian outsider tetap berlangsung. Ini di semua lini; mulai dari olah raga, musik, bisnis, pendidikan, dan seterusnya. Ada acara alumni lah, itu lah, dan seterusnya, nama saya tidak pernah ada karena tidak pernah diajak. Saya ambil asumsi mereka mengira saya sibuk (padahal memang iya – ha ha ha). Atau mungkin dikiranya saya tidak atau tidak mampu. Apapun, saya tidak ikutan. Solusi saya juga gampang saja dan masih tetap sama, buat klub / kelompok sendiri. Buat acara sendiri. Happy-happy sendiri saja. ha ha ha. Jadi tidak perlu bergantung kepada orang lain.

Jadilah matahari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s